Langsung ke konten utama

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah).

Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:

 مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء.

Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu:

ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان

النكت الوفية بما في شرح الألفية

Namun di antara sekian karyanya tersebut, yang masyhur dan menjadi magnum opus  di Nusantara adalah sebuah kitab dalam bidang tafsir berjudul "Nadzmu ad-Durar fi Tanasub al-Ayat wa as-Suwar". Kitab ini digadang-gadang sebagai kitab terbaik yang mampu menjelaskan kandungan makna al-Quran secara tahlili, ayat per ayat berdasarkan urutannya di dalam Al-Quran. Al-Biqa'i begitu ahli dalam menjelaskan keserasian ayat satu dengan ayat lainnya. Pun juga keserasian kata demi kata. Metode ini kemudian digunakan oleh Prof. M. Quraish Shihab dalam menulis kitab Tafsir Al-Mishbah.
.
Kecenderungan Prof. Quraish terhadap pola pemaparan al-Biqa'i bukanlah tanpa alasan, sebab Nadzm ad-Durar merupakan kitab tafsir yang telah ditekuninya cukup lama dan kemudian menjadi objek penelitian disertasinya di Al-Azhar, Kairo.
.
Jumlah karya Al-Biqa'i ada 48 kitab. Untuk Nadzm ad-Durar sendiri, terdiri dari 8 Jilid.
Jilid 1 al-Fatihah - al-Baqarah
Jilid 2 Ali 'Imran - al-An'am
Jilid 3 Al-A'raf - Hud
Jilid 4 Yusuf - Maryam
Jilid 5 Taha - ar-Rum
Jilid 6 al-Luqman - asy-Syura
Jilid 7 az-Zukhruf - al-Jumu'ah
Jilid 8 at-Taghabun - an-Nass

Inilah sekilas tentang al-Biqa'i, pengarang Nadzm ad-Durar yang menjadi rujukan utama kita Tafsir al-Misbah dalam memaparkan kandungan-kandungan makna dibalik ayat. Semoga kita diberikan oleh Allah hidayah dan pertolongan sehingga dapat meneladani beliau. Amiin Ya Rabbal 'Aalamin.

Wallahua'lam bisshowab

Daftar Pustaka

.
- محمد عزير شمس، علي بن محمد العمران. ١٤٢٠ م. "الجامع لسيرة شيخ الإسلام ابن تيمية خلال سبعة قرون". مجمع الفقه الإسلامي : جدة.
- ‏Shihab, Quraish. 2007. Tafsir Al-Mishbah. Lentera Hati : Jakarta.
- تحميل كتب برهان الدين البقاعي pdf - مكتبة نور لتحميل الكتب الإلكترونية.
- ‏http://makalahpendidikanislamlengkap.blogspot.com/2015/07/nazmu-al-durar-fi-tanasub-al-ayat-wa-al.html?m=1
- الموسوعة الشاملة - الإمام البقاعي ومنهاجه في تأويل بلاغة القرآن.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...