Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ARTIKEL

Pesan Berharga Dari Syaikh Abdurrazaq Al-Badr (Resensi #1)

Adalah Syaikh ‘Abdurrazaq al-‘Abbad al-Badr, putra dari seorang ulama ahli hadits di Madinah, al-‘Allâmah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd al-Badr (semoga Allah senantiasa merahmati beliau berdua) yang telah menulis sebuah kitab berjudul “Min washoya al-salafi li al-syabab”, sebuah kutaiyib (buku saku kecil) yang berisikan nasehat-nasehat bagi para pemuda. Kutaiyib tersebut kemudian diterjemahkan oleh Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si dengan judul “15 Wasiat Salaf Kepada Para Pemuda”. Kutaiyib (buku saku kecil) ini adalah buku yang sangat mengesankan sekalipun tipis dan tidak banyak halamannya. Sekalipun sang muallif hanya menuliskan 15 wasiat, namun kesemuanya dikemas dengan penuh perhatian dan kesan yang mendalam sehingga pembaca akan tenggelam dalam bacaannya. Para pembaca -utamanya para pemuda- diajak untuk berdialog lalu merenungkan sejenak untuk apa saja usia muda mereka selama ini. Terlebih -kutaiyib- ini mengajak para pemuda untuk lebih merenungkan bagaimana kemanfaatan usia mudanya ke d...

5 Pelajaran Berharga di Balik Peristiwa Turunnya al-Qur’an

 Sebagai kitab suci sekaligus sumber paling otoritatif di dalam penggalian dalil-dalil hukum, tidak heran jika kemudian al-Qur’an terus dikaji dan diteliti oleh berbagai kalangan, baik kalangan internal umat muslim maupun kelompok luar (orientalis). Hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an selaras dengan sebutannya yang lain seperti al-Furqon, al-Huda, asy-Syifa, dan seterusnya yang menandakan akan kesempurnaannya sehingga layak dijadikan sebagai pegangan utama. Apabila kita renungkan, al-Qur’an tidak hanya mengandung nilai dan pesan-pesan luhur yang disampaikan melalui kandungan ayat-ayatnya, melainkan juga dapat dilihat dari sejarah turunnya al-Qur’an itu sendiri. Sebagaimana kita tahu, al-Qur’an diturunkan kepada Allah SWT. kepada Kanjeng Nabi SAW. dengan cara berangsur-angsur, bukan secara kontan. Mengenai hal ini, telah banyak keterangan yang menyatakan hikmah-hikmah di balik turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur. Salah satunya adalah agar kandungan nilai-nilai di dalamnya leb...

Metode Menulis Bainstorming

Yang menjadi ciri khas dari metode bainstorming adalah kita tidak diharuskan menulis secara ideal (sempurna). Tapi apa yang sudah terkonsepsi dalam pikiran kita, itu ditulis terlebih dahulu tanpa harus merujuk pada kitab, buku, artikel, maupun referensi lain yang sering kita gunakan untuk mendasarkan gagasan dan argumentasi agar lebih rajih (kuat) dan tsiqqah (terpercaya). Baru ketika kita sudah berusaha mengeksplor ide-ide dalam pikiran sejauh mungkin, kemudian mentok (writer’s block), itulah saat untuk membuka-buka kembali buku, kitab, dan artikel. Cara ini -selain untuk menjawab ketidaktahuan kita- juga bisa digunakan untuk mencari ta’bir dari ide yang sudah kita tulis. Ta’bir itu bisa berupa pendapat (maqolah) para tokoh, ulama’, dan cendekia (dalil aqli). Pun juga bisa berasal dari al-Qur’an dan Hadits (dalil naqli). Sumbernya pun tidak harus tertulis (teks) tapi bisa audio, visual, maupun gabungan ketiganya. Selebihnya, agar tulisan yang dihasilkan lebih mudah dipahami dan dimeng...

Catatan Menulis (2): Benda Mati itu Bernama “Ide”

Ide itu benda mati, bahasa-lah yang membuatnya hidup. Karenanya ide hanya akan menjadi sesuatu yang kosong dan sementara jika tidak dituang dalam wujud kata-kata. Ide hanya akan menjadi lintasan pemikiran yang datang bagai kilatan ilham, lalu pergi begitu saja jika kita tidak tahu cara mengikatnya. Ide hanya akan menjadi hiasan bagi pemiliknya saja, tanpa memberikan faedah bagi lingkungan di sekitarnya. Ide hanya akan menjadikan manusia sebagaimana manusia, yang dikaruniai akal dan jiwa, guna berpikir tentang alam semesta dan seluruh ciptaan-Nya. Beda bilamana ide kemudian dibahasakan dan dihadirkan, maka mereka (para makhluk Tuhan) dapat mengambil faedah dari ilham yang dikaruniakan kepadanya. Ia pun menjadi manusia seutuhnya yang menjalankan tugas kekhalifahannya di dunia. Yang fana hanya waktu, begitu kata Kakung Sapardji dalam sajaknya. Maka biarlah waktu saja yang fana, jangan ide-ide yang diilhamkan kepada kita. Wallahua’lam. Malang, 23.10.2020

Membaca Kembali Riset “How Islamic Are Islamic Countries”

Judul di atas adalah sebuah judul riset yang sangat ramai diperbincangkan di bangku-bangku kampus. Sesiapa saja yang membahasnya, membedahnya, akan serasa mendapat ilham baru. Hehe. Termasuk saya yang saat itu masih awam dengan dunia riset (apalagi sampai sekarang masih sangat awam sekali). Waktu itu, entah semester berapa, riset tersebut cukup menggemparkan dunia akademik, pasalnya hasil riset itu membuktikan bahwa ternyata tidak selalu negara Islam itu adalah negara yang islami. Dalam arti tidak semua negara Islam mampu menerapkan nilai-nilai Islam secara utuh. Justru negara yang paling Islami dalam riset tersebut adalah Irlandia, Finlandia, Selandia Baru, dan beberapa negara lain yang notabenenya tidak mendeklarasikan diri sebagai negara Islam dan berpenduduk mayoritas muslim. Riset yang ditulis oleh dua guru besar di Universitas George Washington, AS yaitu Hossein Askari dan Rehman tersebut bisa Anda cari di google. Insyallah Anda akan mendapat full text-nya. Tapi jika Anda memilik...

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...

Tiga Model Pendidikan dalam Meningkatkan Kualitas Nalar Peserta Didik

ADA TIGA model pendidikan yang sering kita temui di sekitar kita, yaitu 1) pendidikan formal, 2) pendidikan non-formal, dan 3) pendidikan informal. Pendidikan formal adalah sistem pendidikan yang diadakan oleh suatu lembaga di bawah institusi pemerintahan, memiliki proses pembelajaran yang terjadwal, terukur dan sistematis, dan dilaksanakan secara berjenjang (kelas satu, dua, tiga, dst). Contoh daripada pendidikan formal adalah PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Sedangkan pendidikan non-formal adalah sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga di luar pemerintahan, dan tidak terikat dengan kurikulum resmi dari lembaga pendidikan pemerintah. Contoh daripada pendidikan non-formal adalah Pesantren, TPQ, Majlis Ta'lim, Halaqoh, dan lain sebagainya. Adapun pendidikan informal adalah sistem belajar yang diadakan tanpa terikat oleh ruang dan waktu. Siapa saja dapat menjadi peserta didik dan pendidik. Contoh daripada pendidikan informal adalah keluarga, dan belajar secar...