Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label RENUNGAN

Kenikmatan Dalam Mendaras Ilmu

Adakalanya kenikmatan dalam mencari ilmu tidak sepenuhnya didapatkan ketika duduk di majlis, melainkan tatkala mendaras kembali pelajaran yang telah didapatkan. Dengan mencatat apa yang telah disampaikian guru, baik berupa catatan ringkasan maupun dalam bentuk maqolah-maqolah penting. Dalam pembacaan ulang tersebut, terkadang tidak sedikit mata air hikmah yang mengalir lebih deras daripada sebelumnya. Jika ketika di majlis hanya mampu memahami keterangan awal dari guru, boleh jadi ketika mendaras, terbukalah pintu-pintu pemahaman yang lain sehingga keterangan selanjutnya dari guru dapat dipahami. Kadang, jika tidak paham hari ini, seminggu kemudian baru paham, atau sebulan kemudian baru paham. Jika tak kunjung terbuka pintu pemahaman tersebut maka kita yakini bahwa ia sedang menunggu di depan pintu sudah sejak lama. Jika pintu itu sudah dibuka oleh Sang Pemberi ilmu maka selama apapun kita menunggunya -sembari berikhtiar- kita akan dapat berjumpa dengannya. Semua hanya tentang waktu da...

Catatan Menulis (1): Batu Loncatan itu Bernama “Niru”

Membiasakan diri bergelut dengan bahasa penulis adalah batu loncatan yang dapat menggerakkan kreatifitas dan imajinasi seseorang menjadi lebih terarah. Karenanya terus mengulang-ulang membaca karya si pengarang hingga menguasainya betul adalah ikhtiar (upaya) yang tidak cukup dilakukan sekali dua kali, tapi sampai tidak ada lagi istilah yang tidak dipahami oleh si pembelajar. Wallahua’lam 22.10.2020

Mutiara Di Balik Amtsilah al-Tahsrifiyyah

Di tengah-tengah kesibukan menerjemah skripsi beberapa minggu ini, saya (baru) merasakan betul lelahnya menerjemahkan teks-teks Indonesia ke dalam bahasa Arab. Kesulitan itu bukan tanpa alasan, meskipun saya sekian purnama berstatus sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab, tetap saja status itu tidak menjamin saya bisa menyulap skripsi bahasa Indonesia saya menjadi bahasa Arab dalam waktu sekejap mata (betapa kerennya. wkwk). Ternyata semua tetap butuh yang namanya ikhtiyar dhahir (baca: usaha) tidak hanya ikhtiyar batin. Kecuali kalau saya tiba-tiba diberi karomah oleh Allah, namun sepertinya wajah-wajah seperti saya ini kok ya tidak mungkin. Saya cuman bisa ngarep-ngarep barokah dari para Kiai saja. Meski begitu, status sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab itu bukan berarti tidak berguna. Dia telah menjelma menjadi semacam tekanan batin buat saya. Kadang saya mikir “Lah iya, masak jurusannya Bahasa Arab tapi terus menghindar dan tidak mau dekat-dekat dengan bahas...

Saat Lupa dan Saat Sadar

Hidup di dunia ini, barangkali hanya ada dua fase. Fase lupa dan fase sadar. Pada fase lupa ini -seperti yang sering penulis rasakan- menjadikan seseorang berada dalam kebingungan, kekalutan, ketidaktahuan apa yang selayaknya dikerjakan. Kalaupun ada yang hendak dikerjakan tapi hati serasa tidak menikmati. Setiap gerak gerik yang kita lakukan seperti hambar, tawar, tiada rasa dan membekas dalam hati. Hendak salat tapi hanya menyisakan lelah fisik. Hendak membaca al-Qur’an tapi mulut terasa keluh, berat, semacam tak pantas membacanya. Kalaupun membaca yang terbaca hanya lafadz-lafadznya. Hendak diam, melihat aliran air, merenungi alam ciptaan, tapi belum kunjung mendapat ilham pelajaran. Membuka kitab-kitab, mencoba meniru para orang 'Alim, memaksa diri muthola’ah tapi hanya berhasil membaca judul bab dalam daftar pustakanya saja, tidak sampai memahami makna isi kitabnya. Hidup dalam fase lupa, tidak ubahnya benar-benar berada dalam kegelapan. Yang gelap bukan dunia yang ada di hada...

الخير والشر من الله

 الخير والشر من الله “Adapun kebaikan maupun keburukan itu datangnya dari Allah.” Seru KH. Badruddin, salah satu Pengasuh Mabna di Ma’had Sunan Ampel al-Ali. Ketika itu Ustadz Anas mengajak saya untuk menemani beliau bertemu KH. Badruddin di kantor Dekan Fakultas Syariah. Beliau, Ustadz Anas bercerita banyak hal kepada KH. Badruddin. Lantas terjadilam suatu dialog yang penuh pelajaran. Salah satunya adalah maqolah di atas yang beliau tuturkan untuk meringankan beban dalam menapaki lika-liku kehidupan. Beliau menjelaskan bahwa maksud dari keburukan itu adalah sesuatu yang tidak kita senangi (sehingga sesuatu itu kita anggap buruk). Bukan berarti Allah turunkan keburukan itu guna mendzalimi kita. Karena apa yang menurut manusia buruk, boleh jadi baik untuk dirinya. Sedangkan apa yang menurut manusia itu baik, boleh jadi buruk baginya. Jadi dalam konteks ini baik buruknya sesuatu itu tergantung pada persepsi manusia itu sendiri. Selain itu manusia tetap perlu berhusnudzan kepada apa y...

Di manakah Allah Berada?

Tanya adikku suatu hari. Pertanyaan adikku itu pada awalnya membuatku seolah dapat menjawabnya. Aku telah mengumpulkan sekian dalil-dalil yang menceritakan di mana Allah berada. Namun tiba-tiba aku merenung dan mengurungkan niat untuk menjawabnya. Ternyata benar pertanyaan itu, menjawabnya tidak semudah mempertanyakannya. Jika aku menyebut Allah berada di arsy, barangkali adikku akan mengira bahwa Allah bertempat dan tempatnya sangatlah jauh. Ia akan kesulitan untuk bertemu dengan-Nya. Lagi-lagi itu akan semakin membuatku kesulitan. Aku jadi ingat perkataan guruku bahwa tidak mungkin bagi kita melihat dzat Allah. Di dunia ini, kita hanya dapat mengenali sifat Allah, fi’lullah, dan asma Allah, bukan dzat-Nya. Beberapa hari kemudian aku membuka beberapa lembaran buku, berharap akan ada sesuatu yang bisa aku makan hari ini. Tubuhku telah melemas selama berhari-hari, bagai jasad tanpa ruh. Jiwaku berantakan dan tak karuan. Aku menaruh harapan pada sebuah buku, sebab hanya ia temanku saat i...

Benih-benih Yang Ditumbuhkan Allah

Ia adalah sesuatu yang sulit didefinisikan bukan karena ia terlalu rumit, terlalu abstrak, atau terlalu jauh sehingga nalar manusia tidak dapat menjangkaunya. Melainkan karena kita, manusia yang tidak ingin ia terdefinisikan sebab jika ia telah terdefinisikan maka pencarian telah selesai. Kalaupun ada definisi mengenainya maka itu bukanlah hakikat dirinya melainkan secuil bagian dari seluruh keindahan yang dimilikinya. Siapakah ia? Yah, ia adalah cinta. Ibarat benih, bukanlah manusia yang mampu menumbuhkannya melainkan Allah yang menumbuhkan cinta itu ke dalam diri seseorang. Allah memberikan cintanya kepada manusia, sehingga manusia dapat mencintai-Nya. Allah memberikan kasih sayang kepada hamba-Nya sehingga tergeraklah hati si hamba untuk mengenali Tuannya. “Kalau bukan karena Allah, niscaya kita tidak akan mengenal pendidik jiwa/ruh kita” “Kalau bukan karena sang pendidik ruh kita (murabbi ruuhina), niscaya kita tidak akan dapat mengenali-Nya.” Menukil salah satu perkataan dari guru...

Saat Terbaik

Saat terbaik adalah tatkala hati tiba-tiba didatangi oleh kegelisahan, lantas kaki dilangkahkan untuk mendekat kepada seseorang yang Allah karunia ilmu beserta cahayanya, yang dikaruniai Allah ketenangan hati dan ruhani yang menyala sinarnya, sehingga tentramlah hati sebab melihat wajah dan mendengar teduh tutur katanya. Ketenangan hati itu diberikan, sedangkan manusia hanya bisa mencarinya, tidak sampai mampu menghadirkan ketenangan hati itu dengan sendirinya. Allah, irhamni. Lamongan, 04 Juni 2020

Pengingat Diri

Selama manusia membandingkan kenikmatan duniawi yang diberikan oleh Allah antara dirinya dengan orang lain, maka ia tak akan puas. Sebab kenikmatan duniawi itu jika dibanding-bandingkan dan terlalu dikejar, maka tak akan ada habisnya. Ia akan melihat orang lain selalu lebih dari dirinya, sedangkan dirinya selalu serba kurang daripada orang lain. Namun bukan berarti ia harus meninggalkan dunia sama sekali. Lain halnya apabila kenikmatan berupa ‘ketenangan ruhani’, ‘keterkendalian terhadap nafsu’, ‘kedekatan dengan Allah’ yang dicemburukannya, maka ketahuilah, cemburu seperti itu lebih dapat membuat hati kita menangis berhari-hari, bermalam-malam, dan sekalipun fisik kita dibuat sakit olehnya akibat tak ada nafsu untuk makan, kita tetap tidak ingin tangisan dan rasa sakit itu berhenti, seolah tiada yang lebih nikmat selain berharap mendapatkan ‘cinta’ dari Sang Pencipta dunia. Ar-Rahim, al-Ghafur, al-Malik, sekalipun harus dicapai dengan tubuh yang meringkih dari waktu ke waktu. Wallahua...

Ganti Oli

BEBERAPA HARI yang lalu, saya berkesempatan untuk mengajak si merah, motor kesayangan ke salon. Saya sengaja tidak mencari salon yang ber-title karena menyesuaikan dengan isi kantong. hehe. Ketika sampai, saya bilang ke bapaknya untuk minta tolong diganti lampu depan dan ganti oli setelah sekian purnama terbiarkan begitu saja tanpa perawatan. Yang menarik, tatkala si bapak memungut sisa oli bekas, lalu menuangkan oli baru ke dalam mesin, saya nyeletuk bertanya, "Kok saget warnane ireng Pak nggeh? padahal asline kuning apik" otomatis si Bapak hanya senyum-senyum lalu berkata, "Lah samean mari mangan, kok iso metune warna kuning mas?" saya pun langsung tertawa mendengar jawaban si Bapak yang sangat singkat, padat, dan jelas itu. Atau dalam istilah fiqihnya "jami' mani'". "itu terjadi karena ada proses pembakaran mas. mangkanya jadi warna hitam." setelah mendengar penjelasan si Bapak itu, saya merasa mendapat ilmu baru. Tentang oli yang warn...

Seorang Kakek, Pagi Hari, dan Renungan Masa Tua

DUA TAHUN yang lalu saya tinggal di Gasek, mengontrak sebuah rumah yang cukup sederhana dengan teman-teman satu-UKM. Sejak itu, rumah yang kami tinggali ibarat basecamp kedua selain kantor UKM yang ada di kampus dan kami niati sebagai tempat untuk belajar. Idepun muncul, dan kami menamainya 'Omsin', singkatan dari Omah Sinau. Di depan Omsin inilah setiap pagi, sebelum saya berangkat kuliah, duduk seorang kakek yang sudah cukup renta. Saya tidak begitu tahu berapa usianya, namun setiap kali mencoba untuk menyapa, wajah si kakek tetap datar pun juga jarang sekali saya mendengarnya berbicara. "Mungkin sapaan saya kurang jelas didengar", gumam saya suatu waktu ketika menyapa si kakek tapi tak dihiraukan. Hal itu kadang tidak berlangsung terus menerus. Si kakek beberapa kali juga mengangguk seolah mengiyakan ketika saya menyapanya, dan itu membuat saya lega. Setiap kali sedang memanasi motor, melihat si kakek duduk di depan rumah, diam termenung, kadang mengundang pertanya...