Langsung ke konten utama

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”.

Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang.

Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali.

Lalu yang *kedua* yaitu tadabbur dikaitkan dengan konteks kemukjizatan. “afalaa yatadabbaruunal qur’an walaw kaana min ‘indi ghairillah lawaajaduu fiihikhtilaafan katsiiraa.” Bahwasanya apabila seseorang itu menela’ah al-Quran pasti ia akan mendapati bukti bahwa al-Qur’an ini sungguh-sungguh berasal dari Allah. Bukti sederhananya adalah al-Quran turun dalam kurun waktu 23 tahun, akan tetapi nilai sastranya tidak naik juga tidak turun, melainkan stabil, sama persis.

Oleh karena itu para ulama sepakat tidak ada ayat yang nilai sastranya lebih unggul dibandingkan ayat yang lain. semua statusnya sama. Padahal kalau al-Quran itu buatan manusia, tentu seiring pengalaman, seiring kebijaksanaan, seiring wawasan, tentu akan terjadi perbedaan kualitas sastra.

Tentu beda orang yang menulis ketika SD, lalu SMP, kuliah, sampai nanti dia jadi profesor, tentu kualitas tulisannya ini akan mengalami dinamika atau perkembangan. Kalau dulu kualitas tulisannya jelek, lantas mulai membaik, sampai jadi yang terbaik.

Akan tetapi al-Qur’an tidak mengalami fenomena seperti itu. hal ini menunjukkan al-Quran memang berasal dari Allah SWT.

Lalu yang *ketiga*, tadabbur dikaitkan dengan konteks bahwa al-Quran itu kitab yang penuh berkah. “kitaabun anzalnaahu mubaarak liyatadabbaru aayatihi waliyatadzakkaru ulul albab.” Al-Qur’an ini penuh berkah. Termasuk yang dimaksud penuh berkah adalah maknanya tidak pernah kering walaupun sudah diambil sejak zaman Rasulillah hingga saat ini. Kandungan maknanya terus-menerus ada.

Bahkan dalam salah satu kesempatan, kalaupun kita membaca al-Quran hari ini di ayat yang sama, besok membaca ayat yang sama, lusa membaca ayat yang sama, karena (adanya) perbedaan pengalaman hidup, perbedaan ilmu, perbedaan kebijaksanaan (dari waktu ke waktu), maka kita akan memperoleh makna baru sekalipun ayat yang kita baca masih tetap sama.

Oleh karena itu bisa disimpulkan, menjelang datangnya Nuzulul Qur’an ini, penting bagi kita untuk menggalakkannya. Salah satu model interaksi dengan al-Quran yaitu mentadabburi al-Quran. Tujuan utamanya adalah untuk membuka hati, untuk semakin mengagumi kemukjizatan al-Quran. Serta tidak kalah pentingnya yaitu untuk memperluas cakupan makna-makna al-Quran yang berguna bagi kehidupan, minimal bagi kehidupan kita, keluarga, serta masyarakat di sekitar.

Wallahua’lam bisshowab

__________

– فالمدبرات أمرا. سورة النازعات: ٥

– أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها. سورة محمد: ٢٤

– أفلا يتدبرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا. سورة النساء، ٨٢

– كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته وليتذكر أولو الألباب. سورة ص، ٢٩


Tafsir Tarbawi Tematik 29: Tadabbur

Ustadz Dr. Rosidin, M.Pd.I

Dosen STAIMA al-Hikam Malang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Lima Hubungan Yang Harus Diperbaiki oleh Seorang Anak Laki-Laki

S etidaknya ada lima hubungan yang harus diperbaiki oleh seorang anak laki-laki sebelum ia berpikir tentang 'menata' masa depan dan kemapanan hidupnya. Pertama, yaitu hubungannya dengan Allah Swt.. Alangkah baiknya jika seorang anak laki-laki itu harus berpikir tentang sholatnya. Tentang bagaimana sholat berjama'ah lima waktunya sebelum dia berangan-angan dengan karir, masa depan, dan kemapanan hidupnya. Karena tidak ada kesuksesan yang abadi, yang langgeng kecuali kesuksesan itu berada di dalam kekuasaan  dan keridaan Allah. Kalau Allah tidak rida dengan kita, jangan berharap kesuksesan dan keberhasilan yang kita gapai akan berlangsung lama. Kedua, yaitu hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw.. Alangkah bagusnya jika seorang anak laki-laki itu mulai banyak-banyak merenung dan bermuhasabah terkait bagaimana hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw. selama ini? apakah telah banyak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. ataukah masih sedikit? Apakah telah sangat mengenal pada ke...