Langsung ke konten utama

Membaca Kembali Riset “How Islamic Are Islamic Countries”

Judul di atas adalah sebuah judul riset yang sangat ramai diperbincangkan di bangku-bangku kampus. Sesiapa saja yang membahasnya, membedahnya, akan serasa mendapat ilham baru. Hehe. Termasuk saya yang saat itu masih awam dengan dunia riset (apalagi sampai sekarang masih sangat awam sekali).

Waktu itu, entah semester berapa, riset tersebut cukup menggemparkan dunia akademik, pasalnya hasil riset itu membuktikan bahwa ternyata tidak selalu negara Islam itu adalah negara yang islami. Dalam arti tidak semua negara Islam mampu menerapkan nilai-nilai Islam secara utuh. Justru negara yang paling Islami dalam riset tersebut adalah Irlandia, Finlandia, Selandia Baru, dan beberapa negara lain yang notabenenya tidak mendeklarasikan diri sebagai negara Islam dan berpenduduk mayoritas muslim. Riset yang ditulis oleh dua guru besar di Universitas George Washington, AS yaitu Hossein Askari dan Rehman tersebut bisa Anda cari di google. Insyallah Anda akan mendapat full text-nya. Tapi jika Anda memiliki kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan seperti saya, maka membaca ulasan berikut mungkin bisa jadi solusi. Hhe

https://www.google.com/amp/s/anasejati.wordpress.com/2014/11/17/995/amp/

Selain menambah wawasan, cara-cara seperti ini juga penting agar kita pernah membaca realitas melalui sudut pandang orang lain (tentu yang lebih ahli). Hehe. Tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini. Saya mencari kembali jurnal ini sehabis berbincang dengan salah seorang Bapak tani tambak yang mampir ke rumah, mau ketemu Ayah tapi tidak ketemu. Jadilah saya belajar ngobrol sekalian. Alhasil di tengah perbincangan, si bapak ini ternyata markir motor di depan rumah tapi kuncinya ditinggal, tidak dibawa. Kerenkan? Kalau itu terjadi di Malang, mungkin saya yang justru mengantarkan si bapak pulang. Hhe

Yah, kejadian seperti ini (ninggal kunci di sepeda dan sepeda diparkir biasa) adalah yang kedua kalinya saya melihatnya langsung. Yang pertama saat saya bertandang ke rumah kakek saya. Betapa waktu itu si pemilik vario baru itu tidak gusar ketika saya memindah parkirkan sepedanya sedikit geser ke belakang. Padahal kuncinya nempel di situ. Dalam batin, saya terheran-heran apa si bapak tidak khawatir kalau seandainya yang memegang ini hendak berniat buruk (naudzubillah). 😅

Usut punya usut, ternyata hal seperti ini sudah menjadi tradisi di banyak desa di Lamongan. Si bapak tani itu menceritakan kalau di tempatnya, markir sepeda di depan rumah, kunci nempel, ditinggal berhari-hari bermalam-malam ya alhamdulillah tetep aman. “Ojo.o ngunu mas. Sepeda nek sawah-sawah, ndek pinggir dalan jejer-jejer iku ya wes biasa. Yo tetep aman” imbuhnya. Saya heran “masak iya bisa seperti itu” 😂. Maklum pengetahuan saya tentang tempat kelahiran saya ini terbilang masih cukup sedikit (untuk tidak bilang tidak tahu sama sekali).

Yah, dari situlah akhirnya saya tersulut dengan memori diskusi dengan teman-teman sewaktu di kampus di mana saat itu seseorang menyebut betapa Barat adalah negara yang Islami terutama dengan munculnya riset tersebut. Ditambah komentar para netizen yang mengatakan bahwa “di Barat, kalau dompet kita hilang, tidak lama lagi akan dikembalikam yang nemukan. Beda di Indonesia.” Waktu itu saya mengamini “ada benarnya juga yah”. Pasalnya saya sering kehilangan (atau jangan-jangan lupa naruh) jam tangan sehingga saya berkali-kali harus kehilangan jam tangan yang saya beli dengan uang tabungan semampu saya itu. Meski murah tapi ketika kehilangan si jam tangan itu, separuh hidup saya seperti ada yang ikut hilang pula. Jadilah saya diam murung beberapa waktu sampai berusaha mengikhlaskan. Andai kalau saya hidup di Eropa mungkin dia akan kembali. Batin saya waktu itu.

Tapi ternyata apa yang saya pahami dulu lain halnya dengan yang sekarang. Apa yang disebut sebagai nilai etis ‘mengembalikan barang orang’ atau ‘menjaga yang bukan haknya’ itu tidak hanya dipegang erat oleh orang-orang di Barat, di Eropa saja. Masyarakat desa kita pun, sudah memiliki kearifan tersebut jauh-jauh hari dan bertahan sampai sekarang. Apapun itu, saya semakin belajar bahwa apa yang kita pelajari di kampus ternyata perlu dibaca ulang, dibaca kembali (mutolaah) dan didialogkan dengan kondisi riil masyarakat kita. Sebab, kearifan akan semakin kita rasakan keberadaannya tatkala kita mendekatinya dari sumbernya langsung. Hhe.

Wallahua’lam bisshowab

Lamongan, 07 Juni 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Hubungan Yang Harus Diperbaiki oleh Seorang Anak Laki-Laki

S etidaknya ada lima hubungan yang harus diperbaiki oleh seorang anak laki-laki sebelum ia berpikir tentang 'menata' masa depan dan kemapanan hidupnya. Pertama, yaitu hubungannya dengan Allah Swt.. Alangkah baiknya jika seorang anak laki-laki itu harus berpikir tentang sholatnya. Tentang bagaimana sholat berjama'ah lima waktunya sebelum dia berangan-angan dengan karir, masa depan, dan kemapanan hidupnya. Karena tidak ada kesuksesan yang abadi, yang langgeng kecuali kesuksesan itu berada di dalam kekuasaan  dan keridaan Allah. Kalau Allah tidak rida dengan kita, jangan berharap kesuksesan dan keberhasilan yang kita gapai akan berlangsung lama. Kedua, yaitu hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw.. Alangkah bagusnya jika seorang anak laki-laki itu mulai banyak-banyak merenung dan bermuhasabah terkait bagaimana hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw. selama ini? apakah telah banyak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. ataukah masih sedikit? Apakah telah sangat mengenal pada ke...

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.