Langsung ke konten utama

Postingan

Memanajemen Rasa Berat Melakukan Amal Kebaikan

Ketika berniat melakukan suatu kebaikan dan itu memang sesuatu yang berat, misal mau nderes al-Qur'an, mau mutholaah kitab. Mau nambah hafalan nadzam, kitab, rumus" di perkuliahan, maka Pertama adalah jangan anggap itu sebagai sesuatu yang berat. Sebisa mungkin dibuat enjoy. Tenang. Pandanglah itu sebagai sesuatu yang hanya berat di dunia, hanya berat sementara, tapi nanti akan memudahkan kita saat sudah tua (di dunia) atau saat kita sudah meninggal (di akhirat). . Kedua, sadarilah bahwa ini adalah sesuatu yang Allah ridai. Sesuatu yang Allah senangi. Hati, jiwa dan badan kita akan senang kalau membuat Allah senang. Pikiran pun akan tercerahkan. . Ketiga, tidak ada usaha di dunia ini yang sia-sia, selama usaha yang kita kerahkan itu memang untuk Allah. Melaksanakannya demi memperbaiki pribadi yang selama ini condong pada nafsu malas yang terlanjur mengkarakter. Dan hasilnya kita serahkan pada Allah. . Keempat, selalu carilah cara untuk bisa berteman dengan orang-or...

Mencari Sarapan Ruhani Pagi-pagi Hari di Asrama Putra Darun Nun

Saya tidak menyangka jika hari ini akan mengenal beberapa sosok ulama' panutan dan teladan dari Banyuwangi. Kisah ini saya dapatkan dari salah satu saudara kita di Darun Nun yang sehari sebelumnya habis pulang dari rumah sakit. Namanya Akhi Abil. Singkat cerita, Akhi Abil ini adalah santri Darun Nun yang asalnya dari Banyuwangi. Dulu, sewaktu menamatkan pendidikan SMP, Akhi Abil melanjutkan masa belajarnya di pesantren Kertosari yaitu Pesantren Al-Anwari. Pesantren ini didirikan oleh seorang ulama muda kharismatik bernama Kiai Wahid, murid kesayangan seorang Waliyullah Qutub yang masyhur dari Pasuruan yaitu Mbah Yai Abdul Hamid. Namun, sang ulama muda kharismatik yang hafal al-Qur'an di usia 12 tahun itu, telah lebih dahulu menghadap ke keharibaan Allah. Saat ini estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putra kedua beliau, KH. Achmad Siddiq. . Mas Abil ini, bisa dikatakan adalah murid yang begitu disayang oleh gurunya dan dieman. Dari cerita-cerita yang dituturkan, Mas Abil ini du...

Perjalanan Membaca Peradaban Islam dan Barat

Dulu, sewaktu pertama kali duduk di bangku perkuliahan, saya begitu mengagumi apa yang berbau 'Barat'. Tentu, dalam tataran akademiknya, karya-karya mereka, pemikiran, dan gagasan-gagasan mereka. Bukan pada tradisinya yang bertentangan dengan ajaran-ajaran leluhur kita. Saat itu, saya mengagumi mereka sebab dari merekalah saya dapat memahami bagaimana dunia ini bekerja secara rasional. Ada sekian perangkat-perangkat teori yang mampu menjelaskan mengapa kita harus bermasyarakat, mengapa manusia cenderung membuat kelompok, mengapa bahasa di dunia itu berbeda-beda, dan masih banyak lagi. Saya juga mengagumi filsafat, meski pada akhirnya saya tidak banyak paham ketika sampai pada bacaan dengan istilah yang cukup rumit. Barangkali bukan karena minimnya daya jangkau saya dalam menangkap filsafat, tapi memang karena saya belum menemukan semacam guru, atau role model yang kepada beliau saya bisa mengkonfirmasi pemahaman saya ini. Singkat cerita, dari perjalanan saya membaca banyak buku...

Hal Yang Sulit

 Hal yang paling sulit, menurutku, dalam hidup ini adalah menjaga amanah sang Pencipta. Berapa kali kita kerap berkhianat, berbuat dzalim pada diri yang diwujudkan ini, yang dititipkan oleh Allah kepada kita untuk dijaga. Betapa sering kita menganggap benar apa yang salah, dan enggan membenahi apa yang sudah nampak salah. Betapa sering kita menilai bahwa petaka itu ada di orang lain, padahal ia ada di diri kita sendiri. Kitalah yang menjadikan petaka itu ada, sebab dosa-dosa. Bukan karena orang lain. Ya Allah, berilah hamba petunjuk-Mu. Amiiin Al-mudznib al-Jahil ad-Dzalil Achmad Abdul Aziz Z. Malang, 1 Maret 2022

Bersandar Pada Amal

Apabila kita menyadarkan diri pada amal yang cacat maka akan lahir putus asa. Apabila kita menyadarkan diri pada amal yang sempurna maka akan lahir rasa sombong Karenanya, sandarkanlah diri pada Allah. maka yang muncul adalah khauf dan raja'. khauf menjadikan kita bersegera memperbaiki amal. raja' menjadikan kita senang dalam melaksanakan amal, tidak merasa terpaksa. mudah ikhlas dan rida. Wallahua'lam

Perlintasan Terakhir

  Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana perlintasan terakhir akan kita temui.  Barangkali, saat ini kita telah menggapai sebagian kecil cita-cita dan keinginan kita. Namun, kita tidak pernah benar-benar tahu, apakah itu semua dapat menjadi bekal kita untuk bertemu dengan-Nya. Jangan-jangan, Tuhan tidak butuh itu semua. Tuhan hanya ingin kita kembali, kepada-Nya. Allahumaj'alna minat tawwabin, waj'alna minal mutathohhirin, waj'alna min 'ibadikash sholihin. Amiin.