Dulu, sewaktu pertama kali duduk di bangku perkuliahan, saya begitu mengagumi apa yang berbau 'Barat'. Tentu, dalam tataran akademiknya, karya-karya mereka, pemikiran, dan gagasan-gagasan mereka. Bukan pada tradisinya yang bertentangan dengan ajaran-ajaran leluhur kita. Saat itu, saya mengagumi mereka sebab dari merekalah saya dapat memahami bagaimana dunia ini bekerja secara rasional. Ada sekian perangkat-perangkat teori yang mampu menjelaskan mengapa kita harus bermasyarakat, mengapa manusia cenderung membuat kelompok, mengapa bahasa di dunia itu berbeda-beda, dan masih banyak lagi.
Saya juga mengagumi filsafat, meski pada akhirnya saya tidak banyak paham ketika sampai pada bacaan dengan istilah yang cukup rumit. Barangkali bukan karena minimnya daya jangkau saya dalam menangkap filsafat, tapi memang karena saya belum menemukan semacam guru, atau role model yang kepada beliau saya bisa mengkonfirmasi pemahaman saya ini.
Singkat cerita, dari perjalanan saya membaca banyak buku, dan merasa tahu banyak hal tentang bagaimana dunia ini bekerja, akhirnya saya mudah sekali mendebat teman di kelas. Merasa mampu mengalahkan dengan memberikan pertanyaan yang ia tidak bisa menjawabnya. Tapi lambat laun, ketika menginjak semester 5-6 saya agak melunak. Saya tidak seaktif dulu, sampai salah seorang teman nyeletuk setelah presentasi di depan kelas selesai, "Ayo Ahmad, ini biasanya yang suka tanya di kelas ini.." ucapnya. Saya diam, kadang saya balas dengan senyuman, atau dengan anggukan. Tapi saya agak sulit berbicara saat itu. Saya lebih senang mendengar, selain juga saya belajar untuk lebih melihat kekurangan diri, yang ternyata jauh lebih besar dari apa yang saya kira.
Menginjak semester 6, 7, hingga mau lulus, saya mulai merasakan goncangan batin yang... entah saya belum pernah merasakan. Belakangan, setelah saya lulus S1, saya dengar-dengar bahwa itulah yang dimaksud haus spiritual. Saya mulai merenung. Ada benarnya juga ucapan itu. Waktu itu, saya akui hanya kerap mencari ilmu saja, tapi belum ada, bahkan hampir tidak ada, ilmu itu yang menjadi laku, menjadi sikap, dan menjadikan saya ber-istiqomah. Jadilah di semester-semester akhir menjelang kelulusan, saya mulai belajar mendekat pada para Kiai dan orang-orang yang agamanya mereka pegang secara kuat.
Pada fase itulah, saya mulai dikenalkan pada khazanah keilmuan Islam, oleh guru kami Ustadz Achmad Yulianto. Bagi saya, beliau adalah oase di tengah padang pasir yang selama ini saya cari. Saya yang bodoh ini, mulai memberanikan diri menyentuh, membaca, dan mencatat teks-teks Arab dari kitab-kitab warisan para Ulama'. Anehnya, setiap kali saya membaca kitab-kitab itu, ada rasa berbeda yang tidak saya temukan tatkala membaca buku-buku sampai sekarang. Yaitu rasa bahwa diri ini sangat-sangatlah kerdil di hadapan ilmu dan Pemilik-Nya. kerdil di hadapan ahlinya. kerdil di antara manusia-manusia lain. Lain halnya tatkala saya usai membaca buku-buku, ada semacam kebanggaan tersendiri. Kepuasaan bahwa kita telah mengetahui apa yang boleh jadi tidak banyak orang tahu. Dan, mudah melakukan justifikasi, bahwa apa yang saya baca, itulah kebenaran.
Itulah kilas balik kehidupan saya dulu, yang saya harap catatan ini akan senantiasa menjadi pengingat bagi diri sendiri, dan para pembaca sekalian. Kita kerap merasa pintar tatkala telah membaca buku, tapi kita lupa, ada buku lain yang harus kita baca, yakni kitab 'diri'. Orang yang mampu membaca buku hingga berjilid-jilid, akan memiliki kecerdasan intelektualnya. Tapi, siapa yang mampu membaca buku 'diri'-nya, maka ia akan memiliki kecerdasan emosional dan spiritualnya.
Wallahua'lam bish-showab.
Allahu waliyyuttaufiq
MA (Mas Achmad)
Merjosari, 3 Maret 2022
Komentar
Posting Komentar