Saya tidak menyangka jika hari ini akan mengenal beberapa sosok ulama' panutan dan teladan dari Banyuwangi. Kisah ini saya dapatkan dari salah satu saudara kita di Darun Nun yang sehari sebelumnya habis pulang dari rumah sakit. Namanya Akhi Abil. Singkat cerita, Akhi Abil ini adalah santri Darun Nun yang asalnya dari Banyuwangi. Dulu, sewaktu menamatkan pendidikan SMP, Akhi Abil melanjutkan masa belajarnya di pesantren Kertosari yaitu Pesantren Al-Anwari. Pesantren ini didirikan oleh seorang ulama muda kharismatik bernama Kiai Wahid, murid kesayangan seorang Waliyullah Qutub yang masyhur dari Pasuruan yaitu Mbah Yai Abdul Hamid. Namun, sang ulama muda kharismatik yang hafal al-Qur'an di usia 12 tahun itu, telah lebih dahulu menghadap ke keharibaan Allah. Saat ini estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putra kedua beliau, KH. Achmad Siddiq.
.
Mas Abil ini, bisa dikatakan adalah murid yang begitu disayang oleh gurunya dan dieman. Dari cerita-cerita yang dituturkan, Mas Abil ini dulunya sebenarnya masuk jurusan IPA waktu masih di MAN Banyuwangi. Tapi ketika kuliah, oleh Abah Yai disuruh untuk masuk jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Ya, begitulah murid. Sami'na wa atho'na.
.
Mas Abil ini, juga beberapa kali kerap ditemui oleh gurunya di alam mimpi. Diingatkan dan dinasehati ketika sedang ada masalah. Sampai suatu ketika, Mas Abil memutuskan untuk mondok lagi (waktu masih di semester tiga dan kuliah masih online). Ketika sowan, beliau ditanya sama Abah Yai. Kurang lebih seperti ini, "Le, kuncinya orang berhasil itu dua. Yakin (iman) dan belajar (tholabul ilmi). Contoh, samean iso rene iki kerono opo? Kerono yakin. Yakin nek akan tekan sampai tempat ini. Dan di perjalanan tadi samean pasti belajar, usaha, berdoa ben piye carane iso tekan. Nah, wong sukses iku ngunu iku kuncine." Mendengar penuturan Akhi Abil ini, saya dan hati saya jadi manggut-manggut. Apa yang didawuhkan Abah Yai ini benar. Orang kok yakin bisa mencapai tujuannya, insyaallah akan kesampaian. Tapi tetap harus juga dibarengi usaha. Sebaliknya, orang kok dari awal sudah tidak yakin akan sampai di tempat yang dituju, ya ga bakal tekan. Orang kalau tidak punya keyakinan, tidak mungkin punya usaha.
.
Dialog Abah Yai pada Akhi Abil ini mengingatkan saya pada salah satu bait nadzam dalam Imrithi, "idzil fata hasba i'tiqodihi rufi'. Wa kullu man lam ya'taqid lam yantafi'". Seorang pemuda itu diukur dari seberapa tinggi keyakinannya. Kalau dia tidak memiliki keyakinan (akan dapat meraih cita-citanya) maka semua usahanya dan keinginannya itu tidak akan membawa manfaat pada dirinya (alias sia-sia)
.
Pada titik ini, ingin sekali rasanya saya beristighfar. Banyak sekali kesalahan saya di hadapan Allah Swt. termasuk telah berburuk sangka tidak akan dapat meraih apa yang saya cita-citakan. Saya sadar bahwa yang kurang pada diri saya adalah keyakinan.
.
Ingin pula saya mengucap innalillahi wainna ilaihi rajiun, kepada akal dan badan yang "laa yamutu wa laa yahya". Dikatakan mayat tapi orangnya saat ini masih menulis. Dikatakan hidup tapi ilmu yang dipunyai belum bisa memberi manfaat kepada diri sendiri, apalagi orang lain. Saya, ingin sekali menangis di hadapan Tuhan. Menunjukkan kelemahan saya. Menampakkan kebodohan. Dan semoga Allah berkenan membukakan pintu maaf-Nya untuk hamba-Nya yang hina ini. Lalu membimbing saya dengan cahaya Rahmat-Nya. Diberi nikmat dengan temu dan menatap wajah kekasih-Nya, yakni Nabiyullah Muhammad SAW, oase bagi hamparan tanah yang telah mati dan mengering.
.
Setelah hati saya menangis dan menjerit. Mas Abil kemudan bercerita lagi, tentang sosok Ibunda KH. Achmad Siddiq yang tidak kalah luar biasanya. Suatu hari pernah Ibu Nyai ini melihat Mas Abil salah dalam membasuh kaki menggunakan cebor. Lantas dilihat oleh Bu Nyai dan diberi contoh langsung oleh Bu Nyai. Kaki Mas Abil dibasuhkan oleh Bu Nyai sendiri. "Ngene lo le nek nyiram sikil iku. Disiram tekan mburi terus tekan ngarep. Ben ga najis." Santri mana yang tidak sungkan dan ndredeg. Saya yang mendengarnya pun heran, "Gusti, kok bisa".
.
Teladan lain yaitu ketika mengepel lantai. Ibu Nyai menegur Mas Abil dan langsung memberi contoh. "Ngene lo le nek ngepel, tekan kanan ambek kiri, terus nengah. Jadi nasine sisane keangkat." Saya yang mendengarnya semakin menangis, "Gusti, kok bisa."
.
Tidak lama kemudian saya nyeletuk, "Itu kalau ditulis biografinya menarik Mas. Kan jarang keteladan Bu Nyai itu ditulis. Apalagi seperti Bu Nyai Fatma. Beliau mboten cuma menasehati tapi langsung memberi contoh." Mas Abil tersenyum seperti mengatakan sepakat. Tak lama kemudian Mas Abil mencarikan biografi beliau dan suami tercinta beliau dalam sebuah tulisan memoar yang diupload di facebook. Kisah itu berjudul, "Kisah Cinta Kiai Wahid dan Nyai Fatma: Kisah Cinta Dunia Akhirat". Saya telah membacanya dan banyak sekali hikmah pelajaran yang bisa dipetik. Hari ini, saya seperti terhujani oleh gemericik air dari langit, mengguyur tubuh dan menutupi air mata yang juga turut menetes dari dua bola mata.
.
Akhir kata, saya, jadi rindu dengan guru-guru. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga beliau semua, keluarga, dan orang-orang yang beliau cintai. Amiin.
.
Alfaqir ila 'afwi rabbihi, achmad abdul aziz zubair
Malang, 28 September 2022
Keren Ustad, terimakasih telah berbagi cerita. Semoga bisa terus berguru dengan jenengan
BalasHapus