Langsung ke konten utama

Memanajemen Rasa Berat Melakukan Amal Kebaikan


Ketika berniat melakukan suatu kebaikan dan itu memang sesuatu yang berat, misal mau nderes al-Qur'an, mau mutholaah kitab. Mau nambah hafalan nadzam, kitab, rumus" di perkuliahan, maka Pertama adalah jangan anggap itu sebagai sesuatu yang berat. Sebisa mungkin dibuat enjoy. Tenang. Pandanglah itu sebagai sesuatu yang hanya berat di dunia, hanya berat sementara, tapi nanti akan memudahkan kita saat sudah tua (di dunia) atau saat kita sudah meninggal (di akhirat).
.
Kedua, sadarilah bahwa ini adalah sesuatu yang Allah ridai. Sesuatu yang Allah senangi. Hati, jiwa dan badan kita akan senang kalau membuat Allah senang. Pikiran pun akan tercerahkan.
.
Ketiga, tidak ada usaha di dunia ini yang sia-sia, selama usaha yang kita kerahkan itu memang untuk Allah. Melaksanakannya demi memperbaiki pribadi yang selama ini condong pada nafsu malas yang terlanjur mengkarakter. Dan hasilnya kita serahkan pada Allah.
.
Keempat, selalu carilah cara untuk bisa berteman dengan orang-orang yang dekat pada Allah. Orang-orang yang telah bisa istiqomah dengan suatu ibadah, dan bisa merasakan lezatnya ibadah itu. Tujuannya tak lain agar cahaya dan energi yang Allah titipkan kepada orang itu, juga mengalir kepada kita.
.
Nasihat ini, penulis tujukan kepada seseorang yang paling membutuhkan nasihat, yang tak lain dan tak bukan adalah diri penulis sendiri. Kemudian penulis sebarkan kepada orang-orang dekat penulis dengan harapan penulis juga suatu saat diingatkan ketika berbuat salah. Semoga Allah SWT melimpahkan taufiqnya kepada kita sehingga kita dapat melaksanakan apa-apa yang Allah senangi. Amiiin.
.
Wallahua'lam
Alfaqir ila 'afwi rabbihi, achmad abdul aziz
Malang, 03 Oktober 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...