DUA TAHUN yang lalu saya tinggal di Gasek, mengontrak sebuah rumah yang cukup sederhana dengan teman-teman satu-UKM. Sejak itu, rumah yang kami tinggali ibarat basecamp kedua selain kantor UKM yang ada di kampus dan kami niati sebagai tempat untuk belajar. Idepun muncul, dan kami menamainya 'Omsin', singkatan dari Omah Sinau. Di depan Omsin inilah setiap pagi, sebelum saya berangkat kuliah, duduk seorang kakek yang sudah cukup renta. Saya tidak begitu tahu berapa usianya, namun setiap kali mencoba untuk menyapa, wajah si kakek tetap datar pun juga jarang sekali saya mendengarnya berbicara. "Mungkin sapaan saya kurang jelas didengar", gumam saya suatu waktu ketika menyapa si kakek tapi tak dihiraukan. Hal itu kadang tidak berlangsung terus menerus. Si kakek beberapa kali juga mengangguk seolah mengiyakan ketika saya menyapanya, dan itu membuat saya lega. Setiap kali sedang memanasi motor, melihat si kakek duduk di depan rumah, diam termenung, kadang mengundang pertanya...