Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Seorang Kakek, Pagi Hari, dan Renungan Masa Tua

DUA TAHUN yang lalu saya tinggal di Gasek, mengontrak sebuah rumah yang cukup sederhana dengan teman-teman satu-UKM. Sejak itu, rumah yang kami tinggali ibarat basecamp kedua selain kantor UKM yang ada di kampus dan kami niati sebagai tempat untuk belajar. Idepun muncul, dan kami menamainya 'Omsin', singkatan dari Omah Sinau. Di depan Omsin inilah setiap pagi, sebelum saya berangkat kuliah, duduk seorang kakek yang sudah cukup renta. Saya tidak begitu tahu berapa usianya, namun setiap kali mencoba untuk menyapa, wajah si kakek tetap datar pun juga jarang sekali saya mendengarnya berbicara. "Mungkin sapaan saya kurang jelas didengar", gumam saya suatu waktu ketika menyapa si kakek tapi tak dihiraukan. Hal itu kadang tidak berlangsung terus menerus. Si kakek beberapa kali juga mengangguk seolah mengiyakan ketika saya menyapanya, dan itu membuat saya lega. Setiap kali sedang memanasi motor, melihat si kakek duduk di depan rumah, diam termenung, kadang mengundang pertanya...

Dahaga Para Pejalan

Bagi seorang pejalan yang sering kali kehausan Mendekat pada sumber air adalah penawarnya Melegakan dahaga dan penghilang duka Ia bagaikan air nasehat Yang dikucurkan dari nampan kejernihan dan ketulusan kasih Hingga cangkir-cangkir gelas penuh terisi Lantas diteguk Tatkala kering memenuhi tenggorokan Menyirnakan rasa haus yang berapi-api Ia bagaikan cahaya Yang dimunajatkan kehadirannya Agar pejalan dapat melanjutkan perjalanannya Tak was-was dalam kembaranya 8 Oktober 2020

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Berjalan di Malam Hari

Malam ini Hitam perlahan menjadi kelabu Gelap perlahan menuju benderang Tapi pencarian belum usai Cahaya sejati terus dicari dari balik lembar-lembar kitab dan buku Digali dari balik khidmah pada guru Dirawat dari pertemanan Kawan yang kemudian menjadi saudara Yang tanpanya kita bukanlah apa-apa. Kedawung, 26 Juni 2019 00 :01 Edited, 23 Oktober 2021 22:54

Ilmu Hikmah: Ijazah dari KH. Tholchah Hasan

Selepas kepergian Ayah, 7 atau 40 hari setelahnya (saya tidak begitu mengingat) perwakilan guru-guru Tsanawiyah takziyah ke rumah. Kebetulan pula, adik saya, Wardah, masih sekolah di sana. Dalam rombongan itu, ada seorang guru yang tidak begitu asing, namanya Pak Siswanto. Beliau adalah guru Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, sosok guru yang ketika mengajar serasa duduk di bangku kuliah. Sewaktu kecil, saya tidak begitu bisa menangkap banyak apa yang beliau terangkan karena bahasannya yang dalam dan perangkat saya belum nututi . Tapi saya sangat menikmati. Ketika sampai di rumah, kehadiran beliau itu, entah kenapa memberi saya kesan tersendiri. Saya seperti disapa oleh hawa dingin setelah berada dalam masa kalut yang cukup panjang. Beliau menyapa saya dengan senyumnya, seperti orang tua yang lama tidak bertemu anaknya sembari mengelus pundak antara rindu dan ingin memeluk. Setelah ngobrol-ngobrol sederhana beliau lalu bertanya, “mau lanjut kuliah?”, “enggeh Ustadz” jawab saya. “lanjut S2...

Menulis

  Menulis, adalah pekerjaan yang mengandung banyak keutamaan. Tidak heran bila para ulama senantiasa mengingatkan kepada para pelajar agar menulis menjadi kebiasaan, menjadi habitus, dan menjadi teman. Di antara keutamaan menulis itu adalah: Pertama , menjernihkan pikiran. Orang yang terbiasa menulis, pikirannya akan menjadi jernih. Karena tidak ada lagi uneg-uneg yang berkelindan di pikirannya. Semua telah ia ekspresikan ke dalam tulisan. Jika Anda tidak percaya, Anda bisa mencoba untuk mulai menulis. Kedua , pola pikir menjadi lebih sistematis. Orang yang terbiasa menulis, pikirannya akan lebih tertata dalam mengutarakan gagasan. Sebab, sebuah karya tulis pasti memiliki sistematika penalaran, baik itu yang ‘terlihat’ (eksplisit) maupun ‘tidak terlihat’ (implisit). Salah satu contoh, sistematika penalaran yang terlihat adalah sebuah teks artikel pasti didahului ‘pendahuluan’, kemudian ‘analisis dan pembahasan’, lalu ditutup dengan ‘kesimpulan’. Dan jangan lupa 'referensi...