Selepas kepergian Ayah, 7 atau 40 hari setelahnya (saya tidak begitu mengingat) perwakilan guru-guru Tsanawiyah takziyah ke rumah. Kebetulan pula, adik saya, Wardah, masih sekolah di sana. Dalam rombongan itu, ada seorang guru yang tidak begitu asing, namanya Pak Siswanto. Beliau adalah guru Ilmu Al-Qur’an dan Hadits, sosok guru yang ketika mengajar serasa duduk di bangku kuliah. Sewaktu kecil, saya tidak begitu bisa menangkap banyak apa yang beliau terangkan karena bahasannya yang dalam dan perangkat saya belum nututi. Tapi saya sangat menikmati.
Ketika sampai di rumah, kehadiran beliau itu, entah kenapa memberi saya kesan tersendiri. Saya seperti disapa oleh hawa dingin setelah berada dalam masa kalut yang cukup panjang. Beliau menyapa saya dengan senyumnya, seperti orang tua yang lama tidak bertemu anaknya sembari mengelus pundak antara rindu dan ingin memeluk.
Setelah ngobrol-ngobrol sederhana beliau lalu bertanya, “mau lanjut kuliah?”, “enggeh Ustadz” jawab saya.
“lanjut S2, S3?”
“Insyaallah Ustadz, pangestunipun.”
“oh ya, tidak apa. Silahkan lanjutkan kuliahnya sampai habis. Setinggi apapun pendidikan habiskan. Tapi ingat, meski setinggi apapun kita belajar, belum tentu mendapat ilmu hikmah.”
Mendengar itu, hati saya seperti sedang gerimis-gerimis kecil. Kehadiran beliau ke sini seolah memang direncakan oleh Tuhan. Apa yang beliau katakan adalah perkara yang telah menjadi kegelisahan saya dua-tiga tahun lamanya. Ibarat seorang pejalan yang tersesat di belantara hutan, tidak tahu ke mana arah jalan pulang. Jika malam datang, kegelapan menyelimut. Maka dengan ucapan beliau itu saya seperti mendapati seorang pembawa petunjuk. Yang rela datang dari tempat jauh untuk meringankan bebas seorang pejalan yang tersesat. Membawa seublik cahaya agar tetap bisa melanjut perjalanan meski malam tiba. Saya, seperti mendapat siraman air bagi ruhani yang telah kering. Saya, tidak tahu harus berkata apa saat itu selain bersyukur atas rencana Tuhan yang indah ini. Seolah datangnya petunjuk itu memang telah diatur dengan cara-cara yang membuat terkejut hamba-Nya, agar ia tidak menyangka bahwa petunjuk itu lahir atas usaha dirinya, tapi memang murni pemberian Allah.
“pripun niku Ustadz?” tanya saya lebih dalam, sembari memandang beliau dengan senyum dan penuh harap beliau berkenan memberikan jawaban.
“saya dulu sering mengikuti pengajian Kyai Tholchah. Ketika Gus Dur diangkat menjadi Presiden, beliau diminta untuk mengisi jabatan Menteri Agama. Saat itu saya masih kuliah S2, dan ketika mendengar itu, saya susah bukan main. Beliau (Kyai Tholchah) itu adalah ulama yang pandangannya luas, global, mendunia, tidak seperti kyai-kyai yang lain. Akhirnya saya matur ke beliau, “Kyai, kalau Njenengan pergi ke Jakarta, saya harus mengaji ke siapa lagi? Saya belum menemukan guru yang seperti Panjenengan.”
“ya sudah, kamu saya ijazahi doa ini. Dibaca setiap habis sholat lima waktu. Insyaallah kamu diberi ilmu hikmah. ditulis”
“inggih Kyai”
“Robbi habli hukman wa alhiqni bish-solihin, waj’alni lisana sidqin fil-akhirin. Waj’alni min warotsati jannatin-na’im. Dibaca ketika berdoa setelah usai sholat lima waktu.”
Saya menyimak dan mencatat. Saya, seperti sedang dituntun oleh alm. Kyai Tholchah. Harapan saya untuk bertemu dengan beliau yang belum juga kesampaian sampai beliau sudah wafat, seakan telah diketahui oleh beliau. Jadilah beliau mengutus murid terkasihnya untuk menemui seorang pemuda lusuh seperti saya ini. Semenjak itu, saya berusaha menghapalkan, lalu pelan-pelan merapal sembari berharap mendapatkan sambungan ruhani dengan beliau-beliau sesepuh yang dalam ilmunya, matang akhlaknya, dan luas pengetahuannya. Saya bersyukur pernah mendapat ilmu melalui jalur sanad seperti ini. Ada kisah, teladan, dan pelajaran yang teramu jadi satu. Disampaikan dengan cara yang sederhana dan dengan ketulusan seorang guru. Semoga beliau, Pak Siswanto sekeluarga senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat. Amiiin.
Wallahua’lam bishshowab.
Komentar
Posting Komentar