DUA TAHUN yang lalu saya tinggal di Gasek, mengontrak sebuah rumah yang cukup sederhana dengan teman-teman satu-UKM. Sejak itu, rumah yang kami tinggali ibarat basecamp kedua selain kantor UKM yang ada di kampus dan kami niati sebagai tempat untuk belajar. Idepun muncul, dan kami menamainya 'Omsin', singkatan dari Omah Sinau.
Di depan Omsin inilah setiap pagi, sebelum saya berangkat kuliah, duduk seorang kakek yang sudah cukup renta. Saya tidak begitu tahu berapa usianya, namun setiap kali mencoba untuk menyapa, wajah si kakek tetap datar pun juga jarang sekali saya mendengarnya berbicara. "Mungkin sapaan saya kurang jelas didengar", gumam saya suatu waktu ketika menyapa si kakek tapi tak dihiraukan. Hal itu kadang tidak berlangsung terus menerus. Si kakek beberapa kali juga mengangguk seolah mengiyakan ketika saya menyapanya, dan itu membuat saya lega.
Setiap kali sedang memanasi motor, melihat si kakek duduk di depan rumah, diam termenung, kadang mengundang pertanyaan di dalam diri saya, "Kira-kira apa yang sedang dipikirkan si kakek? Sehingga begitu diam dan tak banyak bicara?"
Alhasil ketika saya mulai berangkat ke kampus, selama di jalan raya, saya kadang juga merenung kira-kira kelak jika saya sudah tua apakah bernasib sama dengan si kakek. Kalau nasib tuanya, itu mungkin sudah pasti, di mana rambut akan dipenuhi dengan uban. Tenaga mulai berkurang dan mungkin ingatan juga.
Selama di kampus, si kakek seolah terus membimbing saya dalam perenungan. Mengajak saya membaca masa depan di mana semuanya akan perlahan memudar dan tiada lagi yang diharapkan kedatangannya selain kematian. Masa di mana sebagian besar nikmat dicabut. Makan mungkin tak terasa lagi enak seperti masa muda. Daya ingat juga tak secaggih di masa muda. Begitupun tubuh akan kian renta, kulit mengkerut, cara bicara pun kembali seperti anak-anak yang belum fasih mengucapkan abjad, dan boleh jadi pandangan juga kian memudar. Semua kenikmatan-kenikmatan itu, perlahan akan memudar dan kian meredup di masa tua.
"Kira-kira apa yang bisa saya lakukan kelak meski sudah tua? Akankah saya masih bisa bermanfaat bagi orang sekitar? Atau justru kehadiran saya semakin membuat mereka repot?"
Dunia perlahan sunyi dan hening. Yang ada hanya saya dan si kakek yang sedang membimbing saya menapaki fase demi fase dalam hidup. Pertanyaan demi pertanyaan muncul seolah ingin menerawang kira-kira apa yang terjadi pada diri saya kelak ketika sudah tua. Apakah menghabiskan waktu di beranda rumah? Sendiri termenung, ataukah bersama keluarga melihat anak cucu sedang asik bermain mengitari pelataran rumah? Masihkah saya bisa bermanfaat bagi orang sekitar? Jika iya, kira-kira apa yang bisa saya perbuat meski sudah tua renta?
Si kakek terus membimbing saya dalam jalan tadabbur yang hening dari kebisingan kampus saat itu. Lalu ingatan saya tertuju pada Ayah dan Ibu di rumah yang kini mahkota beliau berdua sudah mulai banyak memutih. Saya teringat dengan Mbah Maimoen yang masih fasih menulis dan mengingat ilmu-ilmu yang beliau kuasai tatkala membaca kata pengantarnya di buku Kaidah-kaidah Fikih yang diterbitkan Pesantren Lirboyo. Saya kemudian teringat dengan almarhum Romo Yai sendiri yang meski sudah di usia sepuh, beliau masih fasih melafalkan ayat demi ayat al-Quran. Pendengaran beliau masih sangat tajam tatkala menyimak para santri. Begitu pula penglihatan beliau yang masih jelas. Beliau semua di usia tuanya, masih dapat memberi manfaat bagi orang sekitar. Bahkan himmah beliau masih menyala dan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar beliau. Mbah Maimoen, senantiasa mengingatkan pentingnya kecintaan pada bangsa, pada NKRI. Romo Yai tak jarang berujar menyampaikan cita-cita beliau, ingin kelak di pondok ini semua satrinya wajib berbahasa Arab, berbahasa al-Quran. Kemudian untuk mencetak generasi yang unggul yang mendalami al-Quran secara utuh, beliau bercita-cita di pondok Nurul Huda kelak didirikan institut tinggi ilmu al-Quran. Sebagaimana banyak pesantren saat ini yang disamping memiliki tempat bermukim santri, madrasah diniyah, juga didirikan sekolah formal dan perguruan tinggi.
Saya, terdiam membaca kisah beliau semua. Kemudian sembari menatap si kakek, saya mengucapkan terima kasih telah mengantarkan sejauh ini. Mencoba merenungi masa muda yang mana bukanlah sesuatu yang permanen, sedang masa tua kian mendekat dan sesuatu yang pasti. Beliau semua dapat bermanfaat karena memiliki ilmu. Tua bukanlah halangan beliau untuk tetap mengajar, mengamalkan ilmunya. Saya teringat betul kalimat yang sering disampaikan guru kami almarhum KH. Abu Sairi yang termasuk guru kami paling sepuh di al-Maarif. Beliau pernah ngendikan "Aku iki guduk tuwek isek ngajar. Tapi ngajar sampek tuwek." Semoga beliau semua senantiasa memdapat limpahan rahmat Allah swt. Amiiin.
Wallahua'lam
Malang, 17 April 2020
*edited (26.10.2021)
Komentar
Posting Komentar