Langsung ke konten utama

Menulis

 

Menulis, adalah pekerjaan yang mengandung banyak keutamaan. Tidak heran bila para ulama senantiasa mengingatkan kepada para pelajar agar menulis menjadi kebiasaan, menjadi habitus, dan menjadi teman. Di antara keutamaan menulis itu adalah:

Pertama, menjernihkan pikiran. Orang yang terbiasa menulis, pikirannya akan menjadi jernih. Karena tidak ada lagi uneg-uneg yang berkelindan di pikirannya. Semua telah ia ekspresikan ke dalam tulisan. Jika Anda tidak percaya, Anda bisa mencoba untuk mulai menulis.

Kedua, pola pikir menjadi lebih sistematis. Orang yang terbiasa menulis, pikirannya akan lebih tertata dalam mengutarakan gagasan. Sebab, sebuah karya tulis pasti memiliki sistematika penalaran, baik itu yang ‘terlihat’ (eksplisit) maupun ‘tidak terlihat’ (implisit).

Salah satu contoh, sistematika penalaran yang terlihat adalah sebuah teks artikel pasti didahului ‘pendahuluan’, kemudian ‘analisis dan pembahasan’, lalu ditutup dengan ‘kesimpulan’. Dan jangan lupa 'referensi'.

Sedangkan sistematika penalaran yang tidak terlihat adalah pikiran itu sendiri. Kalau nalar kita dalam keadaan sehat, terbiasa diberi bacaan-bacaan bergizi, lalu diperlihatkan suatu problem/fenomena maka dari fenomena tersebut ia mampu mengabstraksikannya (menggambarkan) secara rinci. Sedang sebaliknya, kalau nalar kita jarang diberi bacaan, maka pendapat-pendapat yang keluar akan macet dan stagnan (itu-itu aja). Karenanya, tatkala duduk di bangku pendidikan kita pasti pernah dilatih untuk membuat semacam mind map, yang dari mind map itu kita bisa mengembangkan suatu ide agar lebih dalam, rinci, dan kuat analisisnya..

Ketiga, kreatif. Hampir tidak ada orang yang sering menulis, pikirannya menjadi tidak kreatif. Justru banyak kreator di dunia ini, menjadi lebih kreatif dan produktif karena terbiasa menulis. Contohnya adalah para kreator dalam bidang sastra. Banyak karya sastra, baik novel, cerpen, puisi, maupun esai, yang menceritakan hal-hal baru di luar nalar manusia. Bahkan menyediakan jawaban bagi persoalan yang sulit dicari jalan keluarnya oleh manusia yang bernalar klise (umum).

Keempat, mengeksplorasi potensi tersembunyi di dalam diri. Ketika hendak menulis, mula-mula orang akan berpikir apa yang harus ia tulis. Jadinya, ia pun bingung. Agar tidak bingung dan bisa menemukan potensi tersembunyi, ia bisa mencari tokoh favorit yang tulisan-tulisannya sangat menyentuh hatinya, menggerakkan nalar kritisnya, dan membuatnya kian semangat untuk membaca. Setelah ketemu, ia bisa melakukan duplikasi (peniruan) pada gaya bicaranya; gaya analisisnya; caranya menanggapi opini lawan apakah dengan amarah, santai, atau dialogis.

Jika ia seorang pelajar, seorang mahasiswa, tentu tidak akan asing dengan nama-nama intelektual-produktif seperti Gus Dur dan Cak Nur. Jika ia orang yang kritis dan senang berpikir bak filsuf, tentu ia tidak asing dengan nama Cak Nun. Jika ia senang dengan karya tulis sastra bernuansa agamis, ia tidak asing dengan nama Gus Mus. dan masih banyak lainnya

Kelima, waktu menjadi berkah. Betapa beruntungnya orang-orang yang bisa menghabiskan waktu hidupnya untuk kebaikan. Dan menulis adalah satu dari kebaikan yang nilainya sangat disanjung oleh Rasulillah SAW. Sebagaimana ditegaskan oleh Hadlrotusysyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim, “yuwzanu yawmal qiyaamati, midaadul ulama’ bidaamisy-syuhada’”. Akan ditimbang esok di Hari Kiamat, tinta para ulama’ dengan darah para syuhada’.

Keenam, hafalan dan ingatan menjadi kuat. Sebagaimana nasehat Imam Syafi'i, 'memelihara ilmu adalah dengan mengikatnya.

العلم صيد والكتابة صيده * قيد صيودك بالحبال الواثقة
فمن الحماقة أن تصيد غزالة * وتتركها بين الخلائق طالقة


Ilmu bak buruan dan catatan adalah pengikatnya * ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
sungguh bodoh jika kau berhasil memburu rusa * namun kau biarkan ia terlepas di tengah makhluk lain

Ketujuh, sedekah. Menulis adalah bagian dari sedekah. Apabila orang kaya bersedekah dengan hartanya, maka orang yang berilmu bersedekah dengan ilmunya.

selain apa yang saya sebutkan di atas, Panjenengan semua bisa menambahkannya dan mengeksplornya lebih jauh. Bisa pula menamhkan di kolom komentar.

Wallahua'lam.

 *6 Februari 2021 22:12 (edited 21 Oktober 2021 20:06)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...

Membaca Kembali Riset “How Islamic Are Islamic Countries”

Judul di atas adalah sebuah judul riset yang sangat ramai diperbincangkan di bangku-bangku kampus. Sesiapa saja yang membahasnya, membedahnya, akan serasa mendapat ilham baru. Hehe. Termasuk saya yang saat itu masih awam dengan dunia riset (apalagi sampai sekarang masih sangat awam sekali). Waktu itu, entah semester berapa, riset tersebut cukup menggemparkan dunia akademik, pasalnya hasil riset itu membuktikan bahwa ternyata tidak selalu negara Islam itu adalah negara yang islami. Dalam arti tidak semua negara Islam mampu menerapkan nilai-nilai Islam secara utuh. Justru negara yang paling Islami dalam riset tersebut adalah Irlandia, Finlandia, Selandia Baru, dan beberapa negara lain yang notabenenya tidak mendeklarasikan diri sebagai negara Islam dan berpenduduk mayoritas muslim. Riset yang ditulis oleh dua guru besar di Universitas George Washington, AS yaitu Hossein Askari dan Rehman tersebut bisa Anda cari di google. Insyallah Anda akan mendapat full text-nya. Tapi jika Anda memilik...