Langsung ke konten utama

5 Pelajaran Berharga di Balik Peristiwa Turunnya al-Qur’an

 Sebagai kitab suci sekaligus sumber paling otoritatif di dalam penggalian dalil-dalil hukum, tidak heran jika kemudian al-Qur’an terus dikaji dan diteliti oleh berbagai kalangan, baik kalangan internal umat muslim maupun kelompok luar (orientalis). Hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an selaras dengan sebutannya yang lain seperti al-Furqon, al-Huda, asy-Syifa, dan seterusnya yang menandakan akan kesempurnaannya sehingga layak dijadikan sebagai pegangan utama. Apabila kita renungkan, al-Qur’an tidak hanya mengandung nilai dan pesan-pesan luhur yang disampaikan melalui kandungan ayat-ayatnya, melainkan juga dapat dilihat dari sejarah turunnya al-Qur’an itu sendiri.

Sebagaimana kita tahu, al-Qur’an diturunkan kepada Allah SWT. kepada Kanjeng Nabi SAW. dengan cara berangsur-angsur, bukan secara kontan. Mengenai hal ini, telah banyak keterangan yang menyatakan hikmah-hikmah di balik turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur. Salah satunya adalah agar kandungan nilai-nilai di dalamnya lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Bahkan menurut Prof. Nasaruddin Umar, al-Qur’an membutuhkan waktu 23 tahun untuk melakukan penanaman nilai tersebut. Merubah kultur masyarakat Arab yang awalnya jahiliyyah menuju masyarakat madani yang berperadaban. Namun di balik kelaziman berita turunnya al-Quran yang berangsur-angsur tersebut, sesungguhnya ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik.

Pertama, ia mengingatkan kepada kita bahwasanya –sebagaimana Kanjeng Nabi SAW. yang diturunkan wahyu secara berangsur-angsur- kitapun diberi ilham, ilmu dan petunjuk oleh Allah secara berangsur-angsur, tidak secara kontan. Sekalipun kita hidup di tengah-tengah orang yang berilmu, tetap kita tidak dapat mencecap saripati ilmu yang mereka semua miliki dalam satu waktu. Ibarat sebuah tanaman hidroponik yang tidak mungkin baginya menghabiskan air di dalam pot gelas dalam satu waktu, kecuali sesuai kadar kebutuhan dan kapasitas akarnya. Semakin banyak cabang akar yang dimiliki maka serapan airnya semakin banyak.

Kedua, tatkala al-Qur’an diturunkan, Kanjeng Nabi SAW. menyampaikan ayat al-Qur’an bersamaan dengan letak ayat dan suratnya. Hal ini menarik jika kita tarik pada metode pembelajaran saat ini, di mana tatkala para Ulama kita sedang menyampaikan sebuah ilmu, secara tidak langsung apa yang beliau sampaikan itu mengandung unsur “pembukuan”. Maksudnya adalah apa yang beliau sampaikan sangatlah potensial untuk dibukukan dengan sistem tematik.

Misal ketika kita sedang mengikuti pengajian, lantas Kiai bercerita perihal kisah-kisah para Ulama terdahulu yang memiliki keikhlasan luar biasa dalam mengarang kitab, maka kita dapat membuat sebuah buku berjudul “Kisah-kisah Menakjubkan Para Ulama Salaf di Balik Menulis Kitab”. Buku tersebut merupakan kumpulan catatan yang didapat para santri ketika mendengar selingan kisah-kisah para ulama dalam mengarang kitab dari Kiainya selama mengaji. Salah satu judul kisah di dalam buku misalnya, 1) Kitab Jurumiyyah: Terbuang ke Laut, Tak Basah, 2) Kitab Futuhat Makkiyah: 40 Hari Bertahan di Atas Kakbah, 3) Tafsir Jalalain: Dikarang Guru Dilanjutkan Murid, dan beberapa lainnya. Kisah-kisah seperti ini bagi anak pesantren mungkin sudah hal yang lazim, namun bagi mereka yang sedikit bergesakan dengan dunia turast, maka hal seperti ini menjadi luar biasa. Fenomena penulisan seperti ini juga sering saya pelajari dari laman alif.id yang sangat getol membumikan pemikiran-pemikiran tokoh muslim klasik beserta literaturnya.

Ketiga, kita semua tahu bahwa tatkala al-Qur’an diturunkan, ia tidak berupa satu mushaf lengkap langsung seperti sebuah buku yang baru keluar dari percetakan. Bahkan al-Qur’an tidak ditulis dengan qirthas yang dalam bahasa sekarang dikenal sebagai “kertas dari kayu” melainkan dengan beragam media, seperti batu, kulit binatang, pelepah kurma, dan apa saja yang berguna untuk disusunkan sebuah surat di atasnya. Bahkan istilah qirthas tersebut, di Arab merujuk pada benda-benda yang biasa mereka gunakan untuk menulis seperti kulit binatang, batu tipis dan licin, pelepah kurma, tulang binatang, dan lainnya. Sedangkan istilah al-waraq (daun) merujuk pada jenis daun kayu saja.

Jadi, tatkala hendak menuangkan gagasan, jangan kita terpaku harus menunggu di depan laptop, harus didampingi gadget yang bagus (terlebih menunggu punya galaxy note dulu). Padahal kita dapat mendayagunakan media yang ada di sekitar kita, selama kemana-mana ada bulpen di saku. Dulu penulis sering mendayagunakan “kotak berkat”, tisu, atau bahkan telapak tangan sendiri jika sudah kadung mepet. Jadi siap-siaplah membawa bulpen, karena kita tidak tahu kapan ilmu itu akan diturunkan oleh Allah swt. kepada kita.

Keempat, turunnya al-Qur’an adakalanya dimasukkan ke dalam hati Kanjeng Nabi SAW. secara langsung; kadangkala datang seperti gemerincing lonceng; dan kadangkala dengan cara Malaikat menampakkan rupanya seperti seorang laki-laki kemudian mengajarkan al-Quran kepada Kanjeng Nabi SAW; atau juga dalam wujud aslinya sebagaimana dalam surat an-Najm ayat 13-14,

ولقد رءاه نزلة أخرى (13) عند سدرة المنتهى (14

Itu artinya, ilmu, ilham dan petunjuk yang Allah karuniakan kepada kita, perantaranya tidak selalu melalui hati. Bahkan seringkali kita mendapatkan ilmu dari isyarat-isyarat; dari hasil pembacaan atas ayat-ayat Allah swt. di muka bumi; dan bahkan dari orang-orang ‘alim yang kita berguru kepadanya.

Terakhir, kita tahu bahwa ayat-ayat al-Qur’an mulai dilakukan kodifikasi pada zaman Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq ra. atas saran dari Umar bin Khattab ra. Kodifikasi al-Quran yang masih terpilah-pilah dalam berbagai media penulisan itu didasari atas banyaknya para sahabat penghafal al-Quran yang syahid di Perang Yamamah. Karenanya, untuk menjaga orisinalitas al-Quran agar tidak hilang, secepatnya dilakukan kodifikasi (pengumpulan).

Begitu pula yang terjadi di hadapan kita saat ini, andaikata bukan kita yang melakukan kodifikasi atas khazanah keilmuan para ulama beserta literatur Islam klasiknya, siapa lagi yang akan melakukan kodifikasi? Terlebih mumpung para Kiai masih sugeng sehingga dapatlah kita mencecap saripati keilmuan dari beliau yang salah satu caranya adalah dengan mencatat. Jika tidak, maka khazanah keilmuan kita akan terasa semakin asing di telinga, terlebih di tengah gempuran arus ideologi yang kian masif berkembang.

Perhatian yang besar terhadap pemeliharaan dan pembumian khazanah keilmuan Islam melalui budaya catat-mencatat ini selaras dengan apa yang pernah disabdakan Kanjeng Nabi ketika beliau gembira dengan semakin banyaknya generasi sahabat yang dapat menulis dan membaca. Beliau berkata,

يوزن يوم القيامة مدد العلماء ودام الشهداء

“Di akhirat nanti, tinta ulama’ akan ditimbang dengan darah syuhada’”. Bahkan di dalam al-Qur’an sendiri, Allah swt. memberikan penghargaan yang besar terhadap huruf, pena, dan tulisan sebagaimana tertuang dalam surat al-Qalam,

ن، والقلم وما يسطرون

Begitu juga dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5

إقرأ باسم ربك الذى خلق (1) خلق الإنسان من علق (2) إقرأ وربك الأكرم (3) الذي علم بالقلم (4) علم الإنسان ما لم يعلم (5

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia (3) Yang mengajar (manusia) dengan (perantaraan) pena (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Wallahua’lam bisshowab.

Referensi: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an. 1971. Al-Quran dan Terjemahannya. Jakarta.

Gresik, 16.10.2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Hubungan Yang Harus Diperbaiki oleh Seorang Anak Laki-Laki

S etidaknya ada lima hubungan yang harus diperbaiki oleh seorang anak laki-laki sebelum ia berpikir tentang 'menata' masa depan dan kemapanan hidupnya. Pertama, yaitu hubungannya dengan Allah Swt.. Alangkah baiknya jika seorang anak laki-laki itu harus berpikir tentang sholatnya. Tentang bagaimana sholat berjama'ah lima waktunya sebelum dia berangan-angan dengan karir, masa depan, dan kemapanan hidupnya. Karena tidak ada kesuksesan yang abadi, yang langgeng kecuali kesuksesan itu berada di dalam kekuasaan  dan keridaan Allah. Kalau Allah tidak rida dengan kita, jangan berharap kesuksesan dan keberhasilan yang kita gapai akan berlangsung lama. Kedua, yaitu hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw.. Alangkah bagusnya jika seorang anak laki-laki itu mulai banyak-banyak merenung dan bermuhasabah terkait bagaimana hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw. selama ini? apakah telah banyak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. ataukah masih sedikit? Apakah telah sangat mengenal pada ke...

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.