Ia adalah sesuatu yang sulit didefinisikan bukan karena ia terlalu rumit, terlalu abstrak, atau terlalu jauh sehingga nalar manusia tidak dapat menjangkaunya. Melainkan karena kita, manusia yang tidak ingin ia terdefinisikan sebab jika ia telah terdefinisikan maka pencarian telah selesai.
Kalaupun ada definisi mengenainya maka itu bukanlah hakikat dirinya melainkan secuil bagian dari seluruh keindahan yang dimilikinya. Siapakah ia? Yah, ia adalah cinta.
Ibarat benih, bukanlah manusia yang mampu menumbuhkannya melainkan Allah yang menumbuhkan cinta itu ke dalam diri seseorang. Allah memberikan cintanya kepada manusia, sehingga manusia dapat mencintai-Nya. Allah memberikan kasih sayang kepada hamba-Nya sehingga tergeraklah hati si hamba untuk mengenali Tuannya.
“Kalau bukan karena Allah, niscaya kita tidak akan mengenal pendidik jiwa/ruh kita”
“Kalau bukan karena sang pendidik ruh kita (murabbi ruuhina), niscaya kita tidak akan dapat mengenali-Nya.”
Menukil salah satu perkataan dari guru kami, bahwa cinta itu tidaklah menyakitkan. Kalau cinta itu sakit, berarti kitalah yang salah meletakkannya.
Wallahua’llam
Lamongan, 06 Juni 2020
Komentar
Posting Komentar