Langsung ke konten utama

الخير والشر من الله

 الخير والشر من الله

“Adapun kebaikan maupun keburukan itu datangnya dari Allah.” Seru KH. Badruddin, salah satu Pengasuh Mabna di Ma’had Sunan Ampel al-Ali. Ketika itu Ustadz Anas mengajak saya untuk menemani beliau bertemu KH. Badruddin di kantor Dekan Fakultas Syariah. Beliau, Ustadz Anas bercerita banyak hal kepada KH. Badruddin. Lantas terjadilam suatu dialog yang penuh pelajaran. Salah satunya adalah maqolah di atas yang beliau tuturkan untuk meringankan beban dalam menapaki lika-liku kehidupan.

Beliau menjelaskan bahwa maksud dari keburukan itu adalah sesuatu yang tidak kita senangi (sehingga sesuatu itu kita anggap buruk). Bukan berarti Allah turunkan keburukan itu guna mendzalimi kita. Karena apa yang menurut manusia buruk, boleh jadi baik untuk dirinya. Sedangkan apa yang menurut manusia itu baik, boleh jadi buruk baginya. Jadi dalam konteks ini baik buruknya sesuatu itu tergantung pada persepsi manusia itu sendiri. Selain itu manusia tetap perlu berhusnudzan kepada apa yang Allah timpakan kepadanya.

Terkait keburukan atau sesuatu yang tidak manusia senangi, seperti misalnya seorang murid belajar tekun hingga larut malam guna mempersiapkan ujian dua hari lagi. Dengan belajar tersebut ia berikhtiyar mendapat hasil yang baik nantinya. Ketika hari ujian itu tiba dan setelah semua soal dikoreksi semua, murid tersebut ternyata mendapatkan nilai 60. Sebuah nilai yang cukup jauh dibanding teman-temannya yang lain.

Dalam hal ini maka adanya keburukan itu agar manusia kembali hanya kepada Allah. Memohon hanya kepada Allah. Berlindung hanya kepada Allah. Dan berserah hanya kepada Allah. Manusia boleh berusaha semaksimal mungkin tapi bagaimanapun juga ia tetap harus menyandarkan amalnya kepada Allah. Bukan kepada amal itu sendiri entah sebab kecil maupun besar nilainya. Sebagaimana ucapan al-Imam al-Syeikh Ibnu ‘Athoillah al-Askandary bahwa amal hanyalah sarana bukan sandaran. Apabila kita menjadikan amal sebagai sandaran, maka tatkala amal itu cacat maka kita tidak lagi memiliki sandaran.

Wallahua’lam bisshowab

17/05/2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...

Membaca Kembali Riset “How Islamic Are Islamic Countries”

Judul di atas adalah sebuah judul riset yang sangat ramai diperbincangkan di bangku-bangku kampus. Sesiapa saja yang membahasnya, membedahnya, akan serasa mendapat ilham baru. Hehe. Termasuk saya yang saat itu masih awam dengan dunia riset (apalagi sampai sekarang masih sangat awam sekali). Waktu itu, entah semester berapa, riset tersebut cukup menggemparkan dunia akademik, pasalnya hasil riset itu membuktikan bahwa ternyata tidak selalu negara Islam itu adalah negara yang islami. Dalam arti tidak semua negara Islam mampu menerapkan nilai-nilai Islam secara utuh. Justru negara yang paling Islami dalam riset tersebut adalah Irlandia, Finlandia, Selandia Baru, dan beberapa negara lain yang notabenenya tidak mendeklarasikan diri sebagai negara Islam dan berpenduduk mayoritas muslim. Riset yang ditulis oleh dua guru besar di Universitas George Washington, AS yaitu Hossein Askari dan Rehman tersebut bisa Anda cari di google. Insyallah Anda akan mendapat full text-nya. Tapi jika Anda memilik...