Tanya adikku suatu hari. Pertanyaan adikku itu pada awalnya membuatku seolah dapat menjawabnya. Aku telah mengumpulkan sekian dalil-dalil yang menceritakan di mana Allah berada. Namun tiba-tiba aku merenung dan mengurungkan niat untuk menjawabnya. Ternyata benar pertanyaan itu, menjawabnya tidak semudah mempertanyakannya. Jika aku menyebut Allah berada di arsy, barangkali adikku akan mengira bahwa Allah bertempat dan tempatnya sangatlah jauh. Ia akan kesulitan untuk bertemu dengan-Nya. Lagi-lagi itu akan semakin membuatku kesulitan.
Aku jadi ingat perkataan guruku bahwa tidak mungkin bagi kita melihat dzat Allah. Di dunia ini, kita hanya dapat mengenali sifat Allah, fi’lullah, dan asma Allah, bukan dzat-Nya.
Beberapa hari kemudian aku membuka beberapa lembaran buku, berharap akan ada sesuatu yang bisa aku makan hari ini. Tubuhku telah melemas selama berhari-hari, bagai jasad tanpa ruh. Jiwaku berantakan dan tak karuan. Aku menaruh harapan pada sebuah buku, sebab hanya ia temanku saat ini.
Lantas, dari lembar itu, sang sufi datang dan memperdendangkan kata-kata hikmahnya. Gendang telingaku seperti dipukul-pukul dengan mesra. Sudah cukup lama aku tak mendengar suara-suara yang datang dari alam ruhani, yang menyampaikan pesan-pesan Tuhan dengan begitu mesranya.
“Tuhan berada di dalam hati orang-orang suci. Sedangkan hati orang-orang awam hanyalah air dan tanah. Yang membedakan baik buruknya manusia adalah hatinya. Tugas manusia di dunia ini hanyalah membersihkan hati, menggosoknya hingga mengkilap, dan menjadikannya sebuah cermin yang mampu memantulkan Tuhan. Dan hal ini hanya dapat dilakukan dengan bimbingan Sang Pemilik Hati.” (Jalan Cinta Sang Sufi, h. 56)
Aku serasa mendapat tuntunan dari sang sufi, sekalipun hanya melalui buku. Yah, aku sepakat dengan ucapan sang sufi. Allah berada di hati orang-orang suci. Sifat-sifat-Nya telah bersemayam di dalam hati mereka. Sehingga ketika engkau mendekatinya, yang nampak adalah kebaikan Tuhan, kasih sayang Tuhan, dan rasa aman, tenang, dan tentram yang diturunkan kepada hati-hati seperti kita yang masih keruh dan penuh rasa takut.
Aku senang mendengarnya, seperti sedang disuapi sesendok bubur kacang hijau yang sangat aku rindukan keberadaannya. Jiwaku tidak lagi layu dan sayu sangat seperti waktu-waktu sebelumnya. Sebab aku merasa sebelum ini, Tuhan telah meninggalkanku dan membiarkanku sendiri. Betapa hampa hidup dengan rasa seolah ditinggal Tuhan. Tiada lagi yang benar-benar peduli bahkan diri sendiri. Tapi kini, anggapan yang sekadar anggapan itu memudar oleh cahaya cinta yang disampaikan sang sufi bahwa Allah senantiasa ada untuk hamba-hamba-Nya. Ia di hati orang-orang suci. Akupun mengiyakannya.
Dan pada kalimat kedua itu, sangatlah aku sadari bahwa hati ini masih sangat keruh sehingga ia tak dapat menuntun jiwa ini keluar dari jerat kehampaan yang bisa melanda dan datang kapan saja. Semoga Engkau senantiasa menuntun, Gusti.
Komentar
Posting Komentar