Langsung ke konten utama

Di manakah Allah Berada?

Tanya adikku suatu hari. Pertanyaan adikku itu pada awalnya membuatku seolah dapat menjawabnya. Aku telah mengumpulkan sekian dalil-dalil yang menceritakan di mana Allah berada. Namun tiba-tiba aku merenung dan mengurungkan niat untuk menjawabnya. Ternyata benar pertanyaan itu, menjawabnya tidak semudah mempertanyakannya. Jika aku menyebut Allah berada di arsy, barangkali adikku akan mengira bahwa Allah bertempat dan tempatnya sangatlah jauh. Ia akan kesulitan untuk bertemu dengan-Nya. Lagi-lagi itu akan semakin membuatku kesulitan.

Aku jadi ingat perkataan guruku bahwa tidak mungkin bagi kita melihat dzat Allah. Di dunia ini, kita hanya dapat mengenali sifat Allah, fi’lullah, dan asma Allah, bukan dzat-Nya.

Beberapa hari kemudian aku membuka beberapa lembaran buku, berharap akan ada sesuatu yang bisa aku makan hari ini. Tubuhku telah melemas selama berhari-hari, bagai jasad tanpa ruh. Jiwaku berantakan dan tak karuan. Aku menaruh harapan pada sebuah buku, sebab hanya ia temanku saat ini.

Lantas, dari lembar itu, sang sufi datang dan memperdendangkan kata-kata hikmahnya. Gendang telingaku seperti dipukul-pukul dengan mesra. Sudah cukup lama aku tak mendengar suara-suara yang datang dari alam ruhani, yang menyampaikan pesan-pesan Tuhan dengan begitu mesranya.

“Tuhan berada di dalam hati orang-orang suci. Sedangkan hati orang-orang awam hanyalah air dan tanah. Yang membedakan baik buruknya manusia adalah hatinya. Tugas manusia di dunia ini hanyalah membersihkan hati, menggosoknya hingga mengkilap, dan menjadikannya sebuah cermin yang mampu memantulkan Tuhan. Dan hal ini hanya dapat dilakukan dengan bimbingan Sang Pemilik Hati.” (Jalan Cinta Sang Sufi, h. 56)

Aku serasa mendapat tuntunan dari sang sufi, sekalipun hanya melalui buku. Yah, aku sepakat dengan ucapan sang sufi. Allah berada di hati orang-orang suci. Sifat-sifat-Nya telah bersemayam di dalam hati mereka. Sehingga ketika engkau mendekatinya, yang nampak adalah kebaikan Tuhan, kasih sayang Tuhan, dan rasa aman, tenang, dan tentram yang diturunkan kepada hati-hati seperti kita yang masih keruh dan penuh rasa takut.

Aku senang mendengarnya, seperti sedang disuapi sesendok bubur kacang hijau yang sangat aku rindukan keberadaannya. Jiwaku tidak lagi layu dan sayu sangat seperti waktu-waktu sebelumnya. Sebab aku merasa sebelum ini, Tuhan telah meninggalkanku dan membiarkanku sendiri. Betapa hampa hidup dengan rasa seolah ditinggal Tuhan. Tiada lagi yang benar-benar peduli bahkan diri sendiri. Tapi kini, anggapan yang sekadar anggapan itu memudar oleh cahaya cinta yang disampaikan sang sufi bahwa Allah senantiasa ada untuk hamba-hamba-Nya. Ia di hati orang-orang suci. Akupun mengiyakannya.

Dan pada kalimat kedua itu, sangatlah aku sadari bahwa hati ini masih sangat keruh sehingga ia tak dapat menuntun jiwa ini keluar dari jerat kehampaan yang bisa melanda dan datang kapan saja. Semoga Engkau senantiasa menuntun, Gusti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Hubungan Yang Harus Diperbaiki oleh Seorang Anak Laki-Laki

S etidaknya ada lima hubungan yang harus diperbaiki oleh seorang anak laki-laki sebelum ia berpikir tentang 'menata' masa depan dan kemapanan hidupnya. Pertama, yaitu hubungannya dengan Allah Swt.. Alangkah baiknya jika seorang anak laki-laki itu harus berpikir tentang sholatnya. Tentang bagaimana sholat berjama'ah lima waktunya sebelum dia berangan-angan dengan karir, masa depan, dan kemapanan hidupnya. Karena tidak ada kesuksesan yang abadi, yang langgeng kecuali kesuksesan itu berada di dalam kekuasaan  dan keridaan Allah. Kalau Allah tidak rida dengan kita, jangan berharap kesuksesan dan keberhasilan yang kita gapai akan berlangsung lama. Kedua, yaitu hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw.. Alangkah bagusnya jika seorang anak laki-laki itu mulai banyak-banyak merenung dan bermuhasabah terkait bagaimana hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw. selama ini? apakah telah banyak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. ataukah masih sedikit? Apakah telah sangat mengenal pada ke...

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.