Langsung ke konten utama

Faidah Khatam al-Qur'an di Rumah

KHATAMAN MINGGU lalu, Ustadz Kaji memberikan sedikit mauidzoh yang sangat bernilai. Beliau berkata, "Kalau kita khataman al-Qur'an, dan tinggal beberapa surat yang belum dibaca (misal surat ad-Dhuha sampai an-Nass) usahakan dibaca di rumah supaya rumah itu menjadi berkah, didoakan malaikat. Syaikh Nawawi al-Bantani berkata ada 60 ribu malaikat yang mendoakan. Sedangkan Imam an-Nawawi berkata ada 44 ribu malaikat. Semoga anak kita, istri kita dijadikan ahlul qur'an."

beliau juga bercerita, dulu pernah Romo Yai duko ke saya (Ustadz Kaji), "awakmu nek meneng iku moco sholawat, subhanallah, ta istighfar. ojok meneng ae. Nek aku meneng berarti aku ngaji." beliau pun lantas tertawa

beliau juga bercerita dulu Romo Yai pernah bilang, "enak tenan awakmu rokok an tok melbu suargo" haha. 

Romo Yai, punya istiqomah yaitu mengajar ngaji masyarakat dengan al-Qur'an langsung di masjid sebelah fly over Arjosari. rata-rata yang ikut ngaji adalah orang-orang sepuh. Bahkan ada seorang sepuh dari Klampok (kata sahabat Ustadz Kaji) yang dulunya perkerjaannya adalah mengikuti ngajinya Romo Yai ke mana saja (di Malang). beliau adalah seorang petani tapi nderek ngaji ke Yai Mannan.

Allahua'lamu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...