Langsung ke konten utama

Ganti Oli

BEBERAPA HARI yang lalu, saya berkesempatan untuk mengajak si merah, motor kesayangan ke salon. Saya sengaja tidak mencari salon yang ber-title karena menyesuaikan dengan isi kantong. hehe.

Ketika sampai, saya bilang ke bapaknya untuk minta tolong diganti lampu depan dan ganti oli setelah sekian purnama terbiarkan begitu saja tanpa perawatan. Yang menarik, tatkala si bapak memungut sisa oli bekas, lalu menuangkan oli baru ke dalam mesin, saya nyeletuk bertanya, "Kok saget warnane ireng Pak nggeh? padahal asline kuning apik"

otomatis si Bapak hanya senyum-senyum lalu berkata, "Lah samean mari mangan, kok iso metune warna kuning mas?"

saya pun langsung tertawa mendengar jawaban si Bapak yang sangat singkat, padat, dan jelas itu. Atau dalam istilah fiqihnya "jami' mani'".

"itu terjadi karena ada proses pembakaran mas. mangkanya jadi warna hitam."

setelah mendengar penjelasan si Bapak itu, saya merasa mendapat ilmu baru. Tentang oli yang warna hitam itu, saya sebenarnya sudah cukup tahu dari dulu. hanya saja saya tidak mendapat jawaban semenarik jawaban si Bapak ini yang justru mengundang nalar kritis saya untuk merenungkan sesuatu.

Saya merasa, alangkah emannya jika oli baru itu berubah menjadi hitam begitu saja. Lalu tidak terpakai dan terbuang tanpa dimanfaatkan kembali. Alangkah sia-sianya dia secara dzahir. Dari situ, saya kemudian sadar bahwa yang hitam cukup dzahir olinya saja, jangan sampai selama proses pembakaran itu, oli menjadi tidak berharga sebagaimana hasil akhirnya. Jadilah saya semakin bersemangat mengajak si merah kesayangan ini ke tempat-tempat yang berkah, menjadi kendaraan atau wasilah saya untuk mencari ilmu, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang di sekitar. Agar si oli itu, senang diciptakan sebagai oli yang memiliki asas manfaat, memiliki nilai guna, sekalipun nanti ia akan menjadi hitam. Begitu pula manusia, selama ia hidup, hal yang paling berarti bagi mereka adalah tatkala mereka bisa berbagi kepada orang lain, membantu orang lain, sebelum akhirnya mereka (manusia) akan tinggal tulang belulang, terkubur dalam tanah, kembali dengan muasalnya.

Do'a kami, semoga si bapak dilancarkan rejekinya oleh Allah, keluarganya diberi kecukupan, putra-putrinya dijadikan anak yang shalih dan shalihah, dan istrinya dapat mendampinginya, menguatkannya menuju Allah Ta'ala. Allahua'lamu bi muradihi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...

Membaca Kembali Riset “How Islamic Are Islamic Countries”

Judul di atas adalah sebuah judul riset yang sangat ramai diperbincangkan di bangku-bangku kampus. Sesiapa saja yang membahasnya, membedahnya, akan serasa mendapat ilham baru. Hehe. Termasuk saya yang saat itu masih awam dengan dunia riset (apalagi sampai sekarang masih sangat awam sekali). Waktu itu, entah semester berapa, riset tersebut cukup menggemparkan dunia akademik, pasalnya hasil riset itu membuktikan bahwa ternyata tidak selalu negara Islam itu adalah negara yang islami. Dalam arti tidak semua negara Islam mampu menerapkan nilai-nilai Islam secara utuh. Justru negara yang paling Islami dalam riset tersebut adalah Irlandia, Finlandia, Selandia Baru, dan beberapa negara lain yang notabenenya tidak mendeklarasikan diri sebagai negara Islam dan berpenduduk mayoritas muslim. Riset yang ditulis oleh dua guru besar di Universitas George Washington, AS yaitu Hossein Askari dan Rehman tersebut bisa Anda cari di google. Insyallah Anda akan mendapat full text-nya. Tapi jika Anda memilik...