Langsung ke konten utama

Kenikmatan Dalam Mendaras Ilmu

Adakalanya kenikmatan dalam mencari ilmu tidak sepenuhnya didapatkan ketika duduk di majlis, melainkan tatkala mendaras kembali pelajaran yang telah didapatkan. Dengan mencatat apa yang telah disampaikian guru, baik berupa catatan ringkasan maupun dalam bentuk maqolah-maqolah penting.

Dalam pembacaan ulang tersebut, terkadang tidak sedikit mata air hikmah yang mengalir lebih deras daripada sebelumnya. Jika ketika di majlis hanya mampu memahami keterangan awal dari guru, boleh jadi ketika mendaras, terbukalah pintu-pintu pemahaman yang lain sehingga keterangan selanjutnya dari guru dapat dipahami. Kadang, jika tidak paham hari ini, seminggu kemudian baru paham, atau sebulan kemudian baru paham. Jika tak kunjung terbuka pintu pemahaman tersebut maka kita yakini bahwa ia sedang menunggu di depan pintu sudah sejak lama. Jika pintu itu sudah dibuka oleh Sang Pemberi ilmu maka selama apapun kita menunggunya -sembari berikhtiar- kita akan dapat berjumpa dengannya. Semua hanya tentang waktu dan tentang kehendak-Nya.

Dengan mendaras, ilmu-ilmu yang semula terlihat saling terpisah itu perlahan menemukan kesesuaian. Seperti ada gelombang getar yang muncul pada masing-masing mereka, lalu dengan intensitas (jumlah) frekuensi yang sama, mereka dapat saling bertemu dan berdialog. Berdiskusi di alam pikiran muta’allim. Saling bertukar pendapat dan tak jarang pula saling berseteru. Namun kesemuanya akan bermuara pada satu hal yaitu penyingkapan hakikat dari apa yang telah dipelajari.

Dari sinilah barangkali kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang pernah disampaikan Gus Baha’,

فالمعانى اوسع من العبارة والصدور اوسع من الكتب

“Apa yang kita kehendaki di dalam hati itu bergejolak jauh lebih dahsyat daripada redaksi. Dan apa yang ada di dada itu jauh lebih luas dari apa yang kita tulis.” Wallahua’lam bisshowab. (Malang, 08/10/2020)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...