Yang menjadi ciri khas dari metode bainstorming adalah kita tidak diharuskan menulis secara ideal (sempurna). Tapi apa yang sudah terkonsepsi dalam pikiran kita, itu ditulis terlebih dahulu tanpa harus merujuk pada kitab, buku, artikel, maupun referensi lain yang sering kita gunakan untuk mendasarkan gagasan dan argumentasi agar lebih rajih (kuat) dan tsiqqah (terpercaya).
Baru ketika kita sudah berusaha mengeksplor ide-ide dalam pikiran sejauh mungkin, kemudian mentok (writer’s block), itulah saat untuk membuka-buka kembali buku, kitab, dan artikel. Cara ini -selain untuk menjawab ketidaktahuan kita- juga bisa digunakan untuk mencari ta’bir dari ide yang sudah kita tulis. Ta’bir itu bisa berupa pendapat (maqolah) para tokoh, ulama’, dan cendekia (dalil aqli). Pun juga bisa berasal dari al-Qur’an dan Hadits (dalil naqli). Sumbernya pun tidak harus tertulis (teks) tapi bisa audio, visual, maupun gabungan ketiganya.
Selebihnya, agar tulisan yang dihasilkan lebih mudah dipahami dan dimengerti, penulis dapat mengeksplor kemampuannya secara mandiri, atau juga melalui cara lain seperti: 1) bertanya kepada orang lain, dan 2) belajar dari pengalaman orang lain.
Menulis itu adalah skill. Karena ia skill, maka jika sudah lama tak terpakai akan mudah hilang. Dan jika masih sedikit, bisa dikembangkan.
Wallahua’lam
Lamongan, 14 Januari 2021
Komentar
Posting Komentar