Langsung ke konten utama

Mutiara Di Balik Amtsilah al-Tahsrifiyyah

Di tengah-tengah kesibukan menerjemah skripsi beberapa minggu ini, saya (baru) merasakan betul lelahnya menerjemahkan teks-teks Indonesia ke dalam bahasa Arab. Kesulitan itu bukan tanpa alasan, meskipun saya sekian purnama berstatus sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab, tetap saja status itu tidak menjamin saya bisa menyulap skripsi bahasa Indonesia saya menjadi bahasa Arab dalam waktu sekejap mata (betapa kerennya. wkwk). Ternyata semua tetap butuh yang namanya ikhtiyar dhahir (baca: usaha) tidak hanya ikhtiyar batin. Kecuali kalau saya tiba-tiba diberi karomah oleh Allah, namun sepertinya wajah-wajah seperti saya ini kok ya tidak mungkin. Saya cuman bisa ngarep-ngarep barokah dari para Kiai saja.

Meski begitu, status sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab itu bukan berarti tidak berguna. Dia telah menjelma menjadi semacam tekanan batin buat saya. Kadang saya mikir “Lah iya, masak jurusannya Bahasa Arab tapi terus menghindar dan tidak mau dekat-dekat dengan bahasa Arab. Terus mau gimana?” Kalau sudah urusan seperti itu, jiwa saya tidak dapat lagi memberontak. Mau tidak mau harus neriman dan terus mencemburkan diri ke dalam teks-teks Arab. Meski sulit, alhamdulillah kini mulai diberi kemudahan. Pasalnya saya suatu hari menonton serial film Upin-Ipin (maklum penggemar. wkwk) dan di situ Kakek bilang ke Upin, Ipin, dan Ehsan kalau tidak adaitu sesuatu yang sulit. Kalau kita rajin betul, semua yang sulit bisa jadi mudah. Mendengar itu, saya bagai disambar halilintar mini, “Ya Allah betapa luar biasanya nasehat Kakek ini”. Saya tidak tahu lagi harus berterima kasih seperti apa, sebab nasehat si Kakek itu telah membuat lega jiwa saya yang selalu merasa kerdil di depan sebuah masalah, contohnya ya seperti nerjemah skripsi ke bahasa Arab ini. Saya merasa tidak pantas dan tidak diciptakan untuk ahli di bidang ini. Jangankan ahli, setiap kali saya melihat mereka, lima menit saja kepala saya sudah siyung-siyung (baca: ngilu). Akhirnya saya pun melampiaskannya dengan tidur. Biasanya dengan begitu saya jadi lebih tenang menghadapi sesuatu sebangun dari tidur. Dan alhamdulillah itu bisa menjadi solusi. Di dalam tidur, saya bermimpi dibimbing baca kitab sambil nerjemah sama Gus Awis. Yah, beliau adalah sosok Kiai muda yang sangat saya kagumi. Mimpi itu ibarat kado dari langit supaya saya tidak murung terus. Dan dari mimpi itu pula, nasehatnya tetap sama yaitu kesabaran dan ketekunan. Seberapapun pintarnya kita, atau seberapapun bodohnya kita, kalau tidak sabaran dan tekun dalam nerjemah, tetap saja itu akan menjadi sesuatu yang sulit. Hmmm.

Pada akhirnya saya pun mikir dan teringat ketika saya pertama kali belajar mobil. Dulu rasanya kok ya mustahil saya bisa nyetir mobil. Kalau nanti nubruk atau jungkir bagaimana? Dulu waktu nginjek pedal kopling saja ketika mau ngelepas, si kaki entah kenapa tidak berhenti bergetar. Padahal juga di tanah lapang. Apa saya grogi? tapi nafas saya juga biasa-biasa saja. Hhe. Barangkali karena saya sudah lama tidak latihan atau karena lama-nya itu, saya jadi kaku. Akhirnya karena masih tidak bisa nyetir mobil dengan sempurna dan sering merasa deg-deg itu, saya sering mimpi nyetir mobil tapi nyetirnya itu aneh-aneh. Kadang pedalnya berubah jadi pedal sepeda ontel. Kadang setirnya jadi setir sepeda motor. Kadang mobilnya jadi mobil kardus, mobil mainan. Atau keanehan-keanehan lain yang bila diceritakan akan sulit nyari padanannya di dunia ini. Maksudnya yang benar-benar real terjadi. Hehe.

Tapi kini, sejak berani nyetir mobil di jalan raya, dan alhamdulillah sudah sampai ke Madura dan Bondowoso, saya jadi lebih tenang ketika istirahat tidur. Mimpi saya jadi lebih realistis. Kalau sudah mimpi nyetir mobil, mobilnya pasti keren-keren, seperti mobil sport. Dan nyetir-nya pun benar-benar menyetir. Semua bagian mobil tetap pada rupa aslinya. Alhamdulillah. hehe.

Ketika pertama kali membawa mobil ke jalan raya, saya mulai belajar untuk tenang dan alhamdulillah bisa mudah. Saya belajar niteni sisi-sisi mobil di kanan-kiri apalagi kalau pas bersimpangan dengan mobil lain. Soalnya di desa saya, jalan menuju peradaban kecamatan itu adalah jalan seadanya, di tambah kanan kiri adalah sungai. Betapa itu sangat menantang adrenalins. Hehe. Alhamdulillah ketika proses itu, saya merasakan “ternyata mudah ya”. Hanya saja ketika sampai di jalan peradaban kecamatan, entah karena grogi atau apa, saya selalu salah mindah kopling yang aslinya ke kopling tiga, jadinya ke kopling satu. Membahayakan bukan? Yah, saya sendiri berkeringat dingin. Apalagi ketika motor-motor di belakang pada mengeluarkan jurus andalannya “Tinn.. tinn..” hehe. Kacaulah kondisi psikologis saya.

Namun, setidaknya dari situ saya mendapat banyak pelajaran berharga. Terutama tentang “keberanian” dan “tawakkal” yang itu sangat penting sekali dan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Kita harus berani “mempraktikkan apa yang sudah kita pelajari” dan “berserah (tawakkal) atas hasil dari usaha kita”. Sejak saat itu, saya juga menjadi lebih lega, tidak kepikiran lagi kapan ya kira-kira bisa membawa mobil ke tengah jalan raya? Alhamdulillah episode pertama itu menjadi jawaban. Lantas pada episode kedua ketika ditawari Gus Anas untuk menyetir mobil ke Brawijaya, saya girang bukan main, itu artinya saya bisa bawa mobil ke jalan raya untuk yang kedua kalinya. Tapi karena pengalaman asin itu, saya tidak berani menjanjikan apa-apa. Saya tidak bilang kalau saya bisa nyetir mobil, karena memang belum bisa secanggih pembalap, tapi saya bilang ke beliau kalau saya pernah saja. Alhamdulillah setelah beberapa obrolan, beliau akhirnya memercayai saya, meski saya yakin itu adalah keputusan yang tidak mudah. Kalau nanti terjadi apa-apa siapa yang bertanggung jawab? Ternyata Allah yang menanggung semuanya. Allah jadikan saya begitu mudah melewati jalanan kota Malang yang padat ini. Padahal itu adalah kekhawatiran saya yaitu padatnya jalanan kota. Tapi Allah buat semuanya mudah, alhamdulillah. Hanya saja lagi-lagi saya masih harus belajar banyak yaitu belajar memarkir mobil dengan benar dan belajar merawat mesin.

Dari situlah saya selalu termotivasi untuk belajar. Saya yakin apa yang semula sulit, perlahan akan menjadi mudah. Intinya adalah usaha dan berserah. Allah yang akan menanggung semuanya. Tugas kita hanya berusaha dan berserah. Sama halnya ketika nerjemah skripsi ini, di tengah-tengah perjalanan saya merasakan kepenatan yang luar biasa. Saya mbatin kalau saja saya bisa meng-i’lal kata (mufradat) Arab pastilah ini akan menjadi pekerjaan yang mudah. Hmm.

Akhirnya saya mencari dan membuka kembali kitab Amtsilah al-Tashrifiyyah. Saya unduh pdf-nya di gawai, saya buka dan baca-baca, dan… Yah saya hampir-hampir sesenggukan, sebab takjub dengan kitab sebagus ini. Alangkah baiknya pengarang kitab ini, beliau telah memudahkan banyak orang dalam hal membaca kitab. Di dalam kitab ini, saya menemukan jawabannya. Semua hal yang menjadi pertanyaan-pertanyaan saya yang terus mengiang di kepala tatkala kesulitan mengetahui mashdar daripada fi’il kata tertentu, jawabannya ada di kitab ini. Ya Allah, bagaimana bisa beliau mengarang kitab sebagus ini. Ditambah lagi telah sekian tahun saya belajar sharaf tapi kenapa baru malam ini hati saya terbuka dan memahami betapa indahnya setiap goresan yang dituangkan sang pengarang kitab ini. Kenapa tidak sedari dulu saya mengaguminya, sehingga dorongan saya untuk menghafal bukan hanya karena tugas kuliah, tugas diniyah, tapi karena keindahan dan pentingnya ia sebagai penuntun membaca kitab. Perlahan saya mulai sadar, ternyata seperti inikah ilmu itu. Boleh jadi saat ini kita tidak faham terhadap suatu ilmu, tapi insyaallah dengan niat yang tulus untuk memelajarinya, suatu saat Allah akan memberikan futuh sehingga kita mau menerima ilmu itu. Ya Allah.

Saya pun membaca satu-persatu halaman di dalam kitab tersebut dan seolah merasakan kelezatan yang luar biasa sebagaimana yang pernah dikatakan oleh dosen Sharaf kami, Ustadzah Ma’rifah bahwa sharaf itu adalah ilmu yang sangatlah luar biasa yang sulit dicarikan bandingannya keindahannya. Sejujurnya, saya juga mengiyakan ucapan Ustadzah Ma’rifah itu, pasalnya saya juga telah mengagumi ilmu sharaf ini. Apalagi ketika Ustadz Ro’uf yang mengajar sharaf II seringkali mengungkap mutirara-mutiara hikmah di balik setiap kalimat yang ada sharaf sebagai analisisnya. Ayat-ayat di dalam al-Quran itu menjadi lebih hidup dan saya merasakan ketakjuban yang luar biasa yang tidak pernah saya temui sebelumnya. Tapi apa daya, karena kondisi saya yang saat itu hanyalah mahasiswa seadanya, bukan mahasiswa cerdas layaknya teman-teman saya yang mendapat predikat nilai baik dan lolos setiap kali diminta me-na’lil dan tahliil bacaan, saya belum bisa menjangkaunya lebih dalam. Barangkali ini dikarenakan ketertinggalan saya yang begitu jauh. Meski begitu setidaknya rasa cinta ini tidak Allah cabut sehingga sesulit apapun ilmu sharaf itu dan se-siyung apapun dia, saya tetap dapat merasakan kehausan untuk dekat dan mendengar segala tentangnya.

Alhasil, semua nasehat-nasehat dan pelajaran berharga itu, mereka bagaikan mutiara hikmah yang berada di dasar lautan. Kita tidak akan mendapatkannya kalau kita tidak menyelam ke dalamnya. Menceburkan diri dengan segala resikonya. Terengah-engah dan kehabisan nafas, bagai ikan sarden yang nekat menyelam hingga ke dasar laut padahal tempatnya selama ini hanya beberapa kilo dari permukaan laut. Kalau bukan ajal yang akan menjemputnya, boleh jadi ia akan menjadi ikan sarden yang lain dari yang lain. Hehe. Wallahua’lam.

Untuk pengarang kitab, Syaikh Muhammad Ma’shum bin Ali, lahul fatihah..

Lamongan, 27 Juni 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Hubungan Yang Harus Diperbaiki oleh Seorang Anak Laki-Laki

S etidaknya ada lima hubungan yang harus diperbaiki oleh seorang anak laki-laki sebelum ia berpikir tentang 'menata' masa depan dan kemapanan hidupnya. Pertama, yaitu hubungannya dengan Allah Swt.. Alangkah baiknya jika seorang anak laki-laki itu harus berpikir tentang sholatnya. Tentang bagaimana sholat berjama'ah lima waktunya sebelum dia berangan-angan dengan karir, masa depan, dan kemapanan hidupnya. Karena tidak ada kesuksesan yang abadi, yang langgeng kecuali kesuksesan itu berada di dalam kekuasaan  dan keridaan Allah. Kalau Allah tidak rida dengan kita, jangan berharap kesuksesan dan keberhasilan yang kita gapai akan berlangsung lama. Kedua, yaitu hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw.. Alangkah bagusnya jika seorang anak laki-laki itu mulai banyak-banyak merenung dan bermuhasabah terkait bagaimana hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw. selama ini? apakah telah banyak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. ataukah masih sedikit? Apakah telah sangat mengenal pada ke...

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.