Selama manusia membandingkan kenikmatan duniawi yang diberikan oleh Allah antara dirinya dengan orang lain, maka ia tak akan puas. Sebab kenikmatan duniawi itu jika dibanding-bandingkan dan terlalu dikejar, maka tak akan ada habisnya. Ia akan melihat orang lain selalu lebih dari dirinya, sedangkan dirinya selalu serba kurang daripada orang lain. Namun bukan berarti ia harus meninggalkan dunia sama sekali.
Lain halnya apabila kenikmatan berupa ‘ketenangan ruhani’, ‘keterkendalian terhadap nafsu’, ‘kedekatan dengan Allah’ yang dicemburukannya, maka ketahuilah, cemburu seperti itu lebih dapat membuat hati kita menangis berhari-hari, bermalam-malam, dan sekalipun fisik kita dibuat sakit olehnya akibat tak ada nafsu untuk makan, kita tetap tidak ingin tangisan dan rasa sakit itu berhenti, seolah tiada yang lebih nikmat selain berharap mendapatkan ‘cinta’ dari Sang Pencipta dunia. Ar-Rahim, al-Ghafur, al-Malik, sekalipun harus dicapai dengan tubuh yang meringkih dari waktu ke waktu. Wallahua’lam.
Lamongan, 18 Syawwal 1441 H
Komentar
Posting Komentar