Langsung ke konten utama

Pesan Mujalasah dengan Abah

 Abah, adalah sebutan saya untuk guru kami KH. Abdul Kholiq Alwi. Beliau merupakan murid sekaligus khadam Romo KH. Abdul Mannan Syukur Singosari. Beliau mondok sejak keluar dari Sekolah Dasar. Cerita beliau suatu hari,

"Aku biyen iku digolekno pondok ambek bapakku. pondok seng apik pokok e. akhire ketemu Pondok PIQ (karena waktu itu memang gedungnya paling bagus). Tapi aku gak gelem. 'wes, emoh Pak. pokok e aku kudu mondok seng pondok e gubug-gubug'. Akhirnya ketemulah dengan pondok Romo Yai Mannan yang waktu itu memang masih sangat sederhana, hanya dari bambu."

Melihat hal itu, Ayah Ustadz Kaji (sebutan Ustadz Kholiq di pesantren) menangis. Begitu pula sepulangnya beliau ke rumah, Ibu beliau turut menangis. Beliau berdua berkata "Ya Allah nak, mbesok awakmu dadi opo nek mondok nang gubug ngunu iku?" Tapi dengan kemantaban dan keyakinan yang kuat, Abdul Kholiq muda tetap bertekad untuk mondok di tempat itu sembari pula mencoba meyakinkan kedua orang tuanya agar tidak perlu sedih hati dan gelisah.

Beliau telah mengkhatamkan al-Qur'annya dalam waktu (insyaallah) dua tahun. Saat itu usia beliau genap SMP kelas dua. Suatu saat beliau sedang dites membacakan al-Qur'an bil ghoib oleh Romo Yai Mannan. mulai dari juz pertama, juz kedua, juz kelima, juz ke sepuluh sampai juz 23 beliau Romo Yai Manna berkata "Awakmu iki sak jane wes apal sampek pirang juz? kok kabeh wes apal?" Maklum karena waktu itu Abdul Kholiq muda menghafalkan al-Qur'an secara diam-diam tanpa diketahui oleh Romo Yai Mannan. Jadi setiap kali Romo Yai Mannan membacakan al-Qur'an ke hadapan murid-murid beliau satu persatu (begitu pula pada Abdul Kholiq muda) beliau langsung menghafalkannya. Jadilah, seluruh santri yang mendengar itu langsung kaget, terutama para Huffadz senior yang jauh-jauh hari sudah menghafal. Hafalannya telah menyalip kakak-kakak kelasnya. Sampai Romo Yai Mannan saat itu berkata, "wes, mulai saiki santri-santri seng pingin setor nang aku, kudu disimak Kaji sek". Itulah kegembiraan Romo Yai Mannan terhadap guru kami Ustadz Kaji.

Nasehat Abah

Ketika berada di majlis, beliau seusai menyimak bacaan ngaji masyarakat, memberikan beberapa nasehat-nasehat yang sangat meneduhkan dan patut kita jadikan pegangan. Di antaranya yaitu,

- "Orang yang menghafal al-Qur'an, tidak lama kemudian meninggal dan hafalannya belum selesai, maka nanti di alam kubur ia akan dituntun oleh Malaikat Jibril untuk menyelesaikan hafalannya. Asal wong seng ngafalno, ngafalno tenan. artine dijogo tenan qur'ane, sikap e, akhlak e, diamalne. Guduk sembarang ngafalno tok"

- "Ngapalno Qur'an iku ojo digae beban. digae enjoy ae (tapi ojo terus enak-enak'an)"

- besok di hari Kiamat itu, orang yang biasa membaca al-Qur'an akan disuruh oleh Malaikat membacanya dan semakin banyak bacaannya (semakin lancar) maka semakin tinggi pula derajat kedudukan yang ia dapatkan di surga. sebagaimana di Hadits, "Iqro' war taqi", baca dan naiklah. maka dari itu di sinilah keutamaan membaca al-Qur'an dengan tartil. "warattilil Qur'aana tartiila".

- "rejeki seng berupa harta, itu mungkin sak mono-mono ae. gak iso nambah mergo wes ditentukno. tapi, nek rejeki berupa ilmu insyaallah akan terus bertambah selama ada kemauan."

- "sopo wonge njogo al-Qur'an, mongko wong iku maeng uripe bakal ditoto karo Qur'an"

- "hidup bahagia itu lebih enak, daripada hidup sukses"

- "Panjenengan semua bisa istiqomah bersama saya, hadir di majlis ini, itu tergantung kumpulane. nek kumpulane ambek wong seng gampang (hasud, suudzon) maka apa yang saya katakan ini bisa nggarai samean ga suwe nak kene. "Ustadz iku kok omongane ngene se..".

- "uwong semakin apik, semakin gede ujiane"

-"opo ae ujiane, balik nang Qur'an. ngaji."

-"Dia (seseorang itu) kelihatan nyaman karena bisa membawa (ujiannya) dengan baik"

-"Seng onok iku ditelateni (hafalan), seng liyane (yaitu selain hafalan) gawe sampingan. 60-70% (nek iso isine Qur'an"

-"nek Qur'ane kejogo, kejogo kabeh. Nek Qur'ane gak kejogo, yo ga dadi kabeh. gak penak, bakal kepikiran."

-"wong nek wes ngapalno Qur'an, berarti Qur'an iku wes dadi kewajiban. ojo nggolek-nggolek kesibukan liyo"

Semoga Abah sekeluarga senantiasa diberi kesehatan dan panjang umur sehingga dapat membimbing kami semua. Amiiin Ya Rabbal 'Alamin.

Malang, 5 November 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...

Membaca Kembali Riset “How Islamic Are Islamic Countries”

Judul di atas adalah sebuah judul riset yang sangat ramai diperbincangkan di bangku-bangku kampus. Sesiapa saja yang membahasnya, membedahnya, akan serasa mendapat ilham baru. Hehe. Termasuk saya yang saat itu masih awam dengan dunia riset (apalagi sampai sekarang masih sangat awam sekali). Waktu itu, entah semester berapa, riset tersebut cukup menggemparkan dunia akademik, pasalnya hasil riset itu membuktikan bahwa ternyata tidak selalu negara Islam itu adalah negara yang islami. Dalam arti tidak semua negara Islam mampu menerapkan nilai-nilai Islam secara utuh. Justru negara yang paling Islami dalam riset tersebut adalah Irlandia, Finlandia, Selandia Baru, dan beberapa negara lain yang notabenenya tidak mendeklarasikan diri sebagai negara Islam dan berpenduduk mayoritas muslim. Riset yang ditulis oleh dua guru besar di Universitas George Washington, AS yaitu Hossein Askari dan Rehman tersebut bisa Anda cari di google. Insyallah Anda akan mendapat full text-nya. Tapi jika Anda memilik...