Langsung ke konten utama

Saat Lupa dan Saat Sadar

Hidup di dunia ini, barangkali hanya ada dua fase. Fase lupa dan fase sadar. Pada fase lupa ini -seperti yang sering penulis rasakan- menjadikan seseorang berada dalam kebingungan, kekalutan, ketidaktahuan apa yang selayaknya dikerjakan. Kalaupun ada yang hendak dikerjakan tapi hati serasa tidak menikmati. Setiap gerak gerik yang kita lakukan seperti hambar, tawar, tiada rasa dan membekas dalam hati. Hendak salat tapi hanya menyisakan lelah fisik. Hendak membaca al-Qur’an tapi mulut terasa keluh, berat, semacam tak pantas membacanya. Kalaupun membaca yang terbaca hanya lafadz-lafadznya. Hendak diam, melihat aliran air, merenungi alam ciptaan, tapi belum kunjung mendapat ilham pelajaran. Membuka kitab-kitab, mencoba meniru para orang 'Alim, memaksa diri muthola’ah tapi hanya berhasil membaca judul bab dalam daftar pustakanya saja, tidak sampai memahami makna isi kitabnya.

Hidup dalam fase lupa, tidak ubahnya benar-benar berada dalam kegelapan. Yang gelap bukan dunia yang ada di hadapan, bukan mata kepala yang tertutup lalu gelap tidak dapat melihat, tapi mata batin yang terlalu banyak dihinggapi ‘hijab’ sehingga ia tidak dapat menangkap dan merasakan kebesaran Allah di dunia. Sekalipun akal sadar mengatakan bahwa hidup di dunia ini sementara, tapi kesadaran itu belum dapat dibarengi dengan amal-amal yang bermanfaat buat sangu kelak di akhirat. Yang ada hanyalah kebingungan dan kehambaran hidup. Melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya tapi tak menyisakan kesan pelajaran yang membekas.

Tentang lupa itu sendiri, telah banyak para Ulama’ yang memberikan perhatian agar manusia tidak terjebak dalam kelupaan dan kealpaan akan dirinya sendiri. Sebab jika kelupaan menginap terus-menerus di dalam diri manusia, dikhawatirkan ia akan merugi, di dunia dan akhirat. Tentu, kita semua bahkan saya sendiripun tidak ingin menjadi manusia yang merugi di dunia, apalagi kelak di akhirat.

Saya jadi teringat pada apa yang pernah dikatakan Ustadz Yuli, guru kami semua ketika beliau menjelaskan maqolah kedua dalam kitab Futuhul Ghoib, karangan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra. Beliau berkata, di antara sebab mengapa Syaikh Abdul Qadir menggunakan redaksi في التواصي بالخير yang artinya “saling mewasiati dengan kebaikan” adalah sebagai bentuk ketawadlu’an beliau. Sekalipun beliau adalah orang yang sangat berilmu, bukan berarti beliau lantas merasa paling layak memberikan wasiat. Akhlak seperti ini juga kita dapati dalam pribadi Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayah-nya. Sungguh, membaca cara beliau-beliau dalam menyampaikan wasiat yang seperti itu, menjadikan kita semakin tertunduk malu. Dalam hal akhlak saja kita tidak ada apa-apanya, apalagi dalam hal ilmu. Dalam hal cara berucap saja kita tidak ada apa-apanya, apalagi dalam hal bertafakkur. Ya Allah, jangan Engkau hilangkan keberkahan dalam karunia kehidupan yang Engkau berikan pada kami. Amiiin. 🙇

Wallahua’lam

Lamongan, 29.12.20

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Hubungan Yang Harus Diperbaiki oleh Seorang Anak Laki-Laki

S etidaknya ada lima hubungan yang harus diperbaiki oleh seorang anak laki-laki sebelum ia berpikir tentang 'menata' masa depan dan kemapanan hidupnya. Pertama, yaitu hubungannya dengan Allah Swt.. Alangkah baiknya jika seorang anak laki-laki itu harus berpikir tentang sholatnya. Tentang bagaimana sholat berjama'ah lima waktunya sebelum dia berangan-angan dengan karir, masa depan, dan kemapanan hidupnya. Karena tidak ada kesuksesan yang abadi, yang langgeng kecuali kesuksesan itu berada di dalam kekuasaan  dan keridaan Allah. Kalau Allah tidak rida dengan kita, jangan berharap kesuksesan dan keberhasilan yang kita gapai akan berlangsung lama. Kedua, yaitu hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw.. Alangkah bagusnya jika seorang anak laki-laki itu mulai banyak-banyak merenung dan bermuhasabah terkait bagaimana hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw. selama ini? apakah telah banyak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. ataukah masih sedikit? Apakah telah sangat mengenal pada ke...

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.