Langsung ke konten utama

Mengenali Tingkatan-tingkatan Penulis



Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi tentang siapa itu penulis jika dilihat dari tingkatan-tingkatannya. Ini adalah sebuah tulisan reflektif yang saya himpun dari beberapa pengetahuan yang saya miliki dan yang saya catat selama duduk di bangku sekolah dan perkuliahan. Jadi, siapapun boleh sepakat dengan apa yang saya tulis, pun juga boleh tidak sepakat dengan apa yang saya tulis.

Berbicara tentang 'penulis', siapakah mereka kira-kira dalam benak Anda? apakah mereka adalah pekerja lepas? pekerja yang tidak berbayar? pengangguran yang sedang mencari kesibukan? lulusan perguruan tinggi tapi masih belum punya tempat kerja? atau apa?

Nah, beberapa pertanyaan di atas barangkali ada benarnya. Dulu, penulis sendiri juga adalah seorang pengangguran. Jadi, untuk mengisi kekosongan dan supaya terlihat lebih prestisius dibanding teman-teman yang lain, penulis mencoba berperawakan seperti seorang yang 'kutu buku'. Tentu ini tidak baik untuk ditiru. hehe. Selebihnya, sebenarnya kecintaan penulis terhadap dunia tulis-menulis ini sudah dimulai sejak masih di pesantren. Dulu, kalau sudah ada koran Jawa Pos, penulis paling suka mengkhatamkan setelah pulang dari sekolah. Kadang kalau ada koran bagus, penulis mencoba-coba mengkliping. Tapi harus izin dulu. Kalau tak ada izin, ya harus sabar.

Jadi, sebenarnya menulis itu adalah kegiatan yang boleh jadi ia adalah bawaan sejak lahir, bisa jadi karena tuntutan. Kalau bawaan sejak lahir, setiap ada buku pasti dia ingin dekat mulu. Setiap ada bulpen, bawaannya ingin megang terus. Jadi ya, begitulah. Kalau karena tuntutan ya itu banyak cerita.

Oke, sekarang saya akan berbagi tingkatan-tingkatan penulis.

Pertama yaitu, tingkat muqallid (sekadar ikut): yaitu orang yang dalam menulis cukup mengikut atau mengutip pendapat seseorang saja tanpa mengetahui sumber pengetahuan itu dihasilkan. contoh, ada kelompok yang mengatakan bahwa mengucapkan Selamat natal itu haram. Maka si penulis juga mengatakan hal yang sama bahwa mengucapkan selamat natal itu haram berdasarkan perkataan Kiai/tokoh ini saja, tanpa tahu dari mana sumber pengetahuannya. ini adalah tingkatan pemula.

Kedua, tingkat muttabi' (ikut dan tahu sumber-sumber dalilnya): yaitu orang yang dalam menulis tidak hanya mampu menyampaikan pendapat seorang tokoh saja, tapi tahu dari mana sumber-sumber pendapat itu dihasilkan. Contoh penulis menyampaikan bahwa berjiwa nasionalisme itu bagian dari ajaran agama (Hubbul Wathon minal Iman). Ia ber-ittiba' pada pendapat KH. Hasyim Asy'ari, dan tahu kitab-kitab yang digunakan oleh KH. Hasyim Asy'ari dalam mengeluarkan pendapatnya. bukan hanya ikut tapi mulai tahu dan mempelajari sumber-sumber dalilnya.

Ketiga, tingkat mujtahid (menguasai metodologi dan mampu menghasilkan produk pemikiran): yaitu seorang penulis yang telah melampaui tingkat muqallid dan muttabi'. beliau tidak hanya menguasai pendapat-pendapat para Ulama' saja, dan sumber-sumber darimana pendapat-pendapat itu dilahirkan, tapi juga memahami dan menguasai metodologi dalam melahirkan sebuah pendapat.

Wallahua'lam. Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Hubungan Yang Harus Diperbaiki oleh Seorang Anak Laki-Laki

S etidaknya ada lima hubungan yang harus diperbaiki oleh seorang anak laki-laki sebelum ia berpikir tentang 'menata' masa depan dan kemapanan hidupnya. Pertama, yaitu hubungannya dengan Allah Swt.. Alangkah baiknya jika seorang anak laki-laki itu harus berpikir tentang sholatnya. Tentang bagaimana sholat berjama'ah lima waktunya sebelum dia berangan-angan dengan karir, masa depan, dan kemapanan hidupnya. Karena tidak ada kesuksesan yang abadi, yang langgeng kecuali kesuksesan itu berada di dalam kekuasaan  dan keridaan Allah. Kalau Allah tidak rida dengan kita, jangan berharap kesuksesan dan keberhasilan yang kita gapai akan berlangsung lama. Kedua, yaitu hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw.. Alangkah bagusnya jika seorang anak laki-laki itu mulai banyak-banyak merenung dan bermuhasabah terkait bagaimana hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw. selama ini? apakah telah banyak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. ataukah masih sedikit? Apakah telah sangat mengenal pada ke...

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.