Ada nasehat menarik yang -suatu kali- saya dengar dari pengajian Buya Arrazy. Beliau berkata, "Bapak kalau sudah masuk di kelas nih, kemudian besoknya nama bapak dihapus dari daftar nama peserta ujian, bapak terima nggak? nah, begitulah kira-kira, kita ini jangan sampai dihapus dari daftar penerima ujian Allah." Tutur beliau suatu waktu. Saya ingin sekali menyantumkan sumber kalam beliau langsung dan menyertakan link pengajiannya. Semoga di waktu yang dekat Allah beri kesempatan itu, dan saya bisa memperbaiki tulisan ini.
Apa yang penting dari kalam beliau itu? bagi saya sangat penting sekali. Saya akhirnya menyadari bahwa dilepaskan atau dihapuskan dari nama peserta ujian itu sangat tidak enak sekali. Kalau tidak mengikuti ujian kita tidak akan naik kelas. Dalam arti kita akan terhalang dari ilmu-ilmu yang hendak Allah ajarkan untuk mengenali-Nya. yang itu hanya disediakan bagi anak-anak kelas atas. Sebagaimana kita alami di sekolah-sekolah, tentu kita akan bosan dengan pelajaran yang itu-itu saja. Setiap manusia -saya yakin- Alah beri rasa haus untuk mengenali-Nya. Sebab itu adalah di antara tanda cinta Allah kepada ciptaan-Nya.
Selain itu, saya juga menyadari bahwa yang terpenting lagi selain diikutkan dalam ujian adalah adanya bimbingan dan diingatkan oleh sang guru ketika muridnya salah dan tidak mampu menjawab soal-soal dalam ujian. Kalau murid dibiarkan salah, tidak dibimbing pasca adanya ujian, bahkan sebelum adanya ujian, tentu akan sangat menyakitkan bagi si murid. Ia akan dirudung kekalutan dan kesedihan. Begitu juga dalam ujian hidup, kalau dalam mempersiapkan menghadapi ujian, ketika menghadapi ujian, dan setelah menghadapi ujian kita tidak dibersamai oleh Allah SWT tentu itu menjadi suatu kesedihan dan kesusahan yang tidak akan bisa dihilangkan oleh apapun. Sebab bersamanya Allah dengan hamba-Nya adalah suatu nilai yang sangat berharga dan suatu kebahagiaan yang tidak akan pernah tergantikan oleh apapun. Tentu Yang Punya Sekolah tidak turun langsung, tapi melalui guru-guru terbaik-Nya. Maka dari itu Allah menurunkan Rasul-rasul-Nya untuk mengajarkan kitab, hikmah, dan menyucikan mereka (kita hamba-Nya).
Atau Allah sudah memberikan bimbingan, memberikan teguran agar masuk kelas, memberikan kasih sayang (bulghoh, ma'isyah, dan kekuatan fisik dan akal) agar kita bisa hadir di majlis ilmu, tapi kitanya yang enggan. Benarlah kata para ulama' bahwa satu taufiq (pertolongannya Allah) dalam mengamalkan ilmu itu lebih berharga dari ribuan ilmu yang hanya dipelajari dan disimpan.
Ya Allah, berikanlah kami pertolongan-Mu dan petunjuk-Mu dalam beristiqomah di jalan-Mu. Amiiin. Wallahua'lam.
Komentar
Posting Komentar