Ada dua hal yang tidak boleh hilang dari kehidupan seorang mukmin, yaitu keberadaan seorang guru dan amal kebaikan yang itu menjadi keistiqomahan. Mengapa seorang mukmin tidak boleh kehilangan seorang guru? Di dalam al-Qur'an Allah SWT berfirman,
هو الذي بعث في الأميين رسولا منهم يتلو عليهم آياته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفي ضلال مبين (الجمعة: 2)
Tugas utama seorang Rasul adalah untuk menyampaikan ayat-ayat Allah kepada umatnya, mensucikan diri mereka, lalu mengajarkan mereka syariat-syariah Allah dan hikmah. Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad SAW. Setelah beliau intaqala ila rafiqil a'la, maka tugas kerasulan itu digantikan oleh para Sahabat, Tabi'in, Tabi'it Tabi'in, kemudian para ulama hari ini yang sanadnya bersambung hingga Rasulillah SAW. Apabila kita sudah menjauhi mereka seorang ulama', maka bagaimana kita hendak membersihkan diri, dan memahami ayat-ayat Allah?
Rasulullah SAW memiliki guru, yakni Malaikat Jibril as. Beliau (Nabi Muhammad SAW) disimak bacaan Qur'annya oleh Malaikat Jibril as. Nabi Musa as. setelah men-declare diri sebagai orang yang paling alim dan tidak ada yang lebih alim dari beliau, diminta oleh Allah untuk bertemu Nabi Khidir as, dan berguru padanya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, yang berjuluk "Madinatul 'Ilm" juga punya guru, yakni Rasulillah SAW. Begitu pula para sahabat yang lain, seperti Abdullah bin Mas'ud (fuqoha'nya para sahabat), Ibn Abbas (mufassirnya para sahabat), dan banyak lainnya.
keberadaan seorang guru, tidak lain adalah agar kita dapat mensucikan diri, agar dapat memahami kalamullah, agar dapat mengenal Allah. Lantas, guru seperti apakah yang dimaksud?
Ciri utama seorang guru selain 'alim dan memiliki kedekatan dengan Allah, ialah ukhrijat linnaasi, ta'muruuna bilma'rufi wa tanhawna 'anil munkaari. seorang guru adalah ia yang "ukhrijat" diberi lisensi untuk berdakwah dan menyebarkan agama Allah. Bukan melisensikan diri. Ketika Rasulullah SAW wafat, maka para sahabat sudah mengetahui siapakah yang selanjutnya menggantikan kepemimpinan Rasulullah SAW dalam mengatur urusan umat muslim, yang tidak lain merupakan Sayyidina Abu Bakar ra. tanda-tanda kelayakan itu sudah diberikan oleh Rasulullah SAW sebelum meninggalkan umat muslim yakni seringnya Abu Bakar ra. untuk menggantikan Rasulillah SAW selaku imam salat jama'ah. Jadi seorang guru yang sesungguhnya adalah yang telah diberi amanah oleh yang sepuh-sepuh untuk melanjutkan misi dakwahnya, bukan mendakwahkan diri dengan tiba-tiba.
Komentar
Posting Komentar