Langsung ke konten utama

Al-Qur'an: Sahabat Yang Tidak Ingin Kita Sedih, Tapi Senantiasa Kita Membuatnya Sedih

Ketika iman kita sedang turun, terkadang kita berada pada titik di mana kita mengeluh dan terlintas di pikiran kita, bahwa kita -sebab telah meluangkan banyak waktu untuk mempelajari al-Qur'an, untuk menghafal al-Qur'an, untuk mendalami ilmu-ilmu tentang al-Qur'an, untuk mengajarkan al-Qur'an- menjadikan kita telah kehilangan banyak hal. Padahal, jika kita renungi lagi sifat "buruk" kita itu, kita akan menyadari bahwa selama ini al-Qur'an telah memberikan sesuatu yang sebenarnya tidak layak sama sekali untuk kita.. apakah itu? Yaitu kebersamaan dengan al-Qur'an..

al-Qur'an merelakan dirinya untuk menjadi sahabat kita di dunia.. padahal kita bukan siapa-siapa. Al-Qur'an tidak pernah mengatakan bahwa sebenarnya yang 'butuh' pada al-Qur'an adalah diri kita. Tapi, al-Qur'an selalu berdoa kepada Allah Swt. untuk didekatkan "dirinya" dengan kita seolah-olah al-Qur'an lah yang butuh kita. Al-Quran tahu bahwa di masa depan kita akan mengalami hal-hal yang berat dan sulit yang kita tidak mampu menanggungnya. Al-Qur'an ingin menemani langkah-langkah kita menghadapi beratnya ujian-ujian kita itu. Al-Qur'an ingin membantu meringankan beban hidup kita di dunia. Al-Qur'an tahu bahwa kita adalah orang yang dzalim dan banyak dosa, sangat layak untuk masuk neraka, dan al-Qur'an ingin menolong kita dari panasnya api neraka tersebut, bahkan sebelum panasnya percikan api neraka itu menyentuh kulit kita.

Al-Qur'an tahu bahwa kelak ketika kita di alam kubur, kita akan sendiri, di ruangan yang sempit dan gelap. Al-Qur'an tahu kita akan mengalami ketakutan pada saat itu. Terlebih, datangnya malaikat Munkar dan Nakir yang siap mencambuk dan menyiksa kita. Karena itu al-Qur'an ingin menemani kita di alam kubur. Ingin menjadi penenang kita, penjaga kita, pembela kita di hadapan malaikat Munkar dan Nakir. Al-Quran tidak ingin kita merasakan sakit dan disakiti. Al-Qur'an ingin menjadi cahaya yang bisa menerangi alam kubur kita. Al-Qur'an ingin menjadikan kubur kita seperti taman surga. Itu semua keinginan al-Qur'an. Doa yang selalu dipanjatkan al-Qur'an kepada Allah, supaya bisa menjadi teman kita di dunia maupun di akhirat.

Ya Allah, cintakanlah kami pada al-Qur'an, Kalam-Mu yang tiada kebosanan ketika membacanya. Cintakanlah kami pada al-Qur'an yang telah dengan tulus mencintai kita bahkan melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Cintakanlah kami pada al-Qur'an yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri tapi selalu memikirkan kami yang berlumur dosa ini. Cintakanlah kami pada al-Qur'an yang mana Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat juga sangat cinta kepadanya (al-Qur'an). Cintakanlah kami pada al-Qur'an yang mana hati Nabi Muhammad Saw. sangat rindu padanya dan terikat padanya (al-Qur'an). Yang mana beliau pernah mengalami kesedihan yang sangat berat hanya karena lama tidak mendengarkan wahyu al-Qur'an.

Cintakanlah kami pada al-Qur'an yang setiap sahabat Nabi Muhammad Saw. senantiasa membasahi lisannya dan malam-malamnya dengan membaca al-Qur'an. Cintakanlah kami pada al-Qur'an yang telah menjadikan sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw. mendapatkan kemuliaan berupa dimakamkan langsung oleh Rasulullah Saw, disholati langsung oleh Rasulullah Saw. sebab di hatinya ada ayat-ayat al-Qur'an. Cintakanlah kami pada al-Qur'an yang telah menjadikan orang-orang yang mengajarkannya (al-Qur'an) sebagai orang yang senantiasa didoakan oleh Nabi Muhammad Saw. agar diberikan kehidupan yang berkah, rezeki yang berkah, keluarga yang berkah, meskipun kehidupan mereka tidak mewah dan berkecukupan.

Ya Allah, kami tidak punya apa-apa di dunia ini dan kami ingin memiliki sahabat seperti al-Qur'an. Pertemukanlah dan bersamakanlah kami dengannya baik ketika di dunia, di alam kubur, maupun kelak di akhirat.. Aamiiin ya Rabbal 'Alamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...