Salah satu rahasia penting di balik lahirnya
karya-karya tulis monumental adalah terdapatnya ‘kutipan’ di dalam karya tulis
tersebut. Tentu, ‘kutipan’ di sini bukan sekadar mengutip sembarang
ucapan dan kata-kata. Melainkan mengutip ucapan dan kata-kata yang memang dapat
menggugah pikiran. Kata-kata yang bisa membuka cakrawala pengetahuan kita. Kata-kata
tertentu (pilihan) yang memang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita.
Model penulisan ilmiah ini (dengan mengutip), jika kita amati betul, maka kita akan
melihat bahwa banyak di antara karya-karya orang besar, itu berasal dari
kutipan-kutipan (pilihan). Salah satu contoh adalah buku-buku karya KH. Marzuqi
Mustamar. Di antara sekian buku dan kitab yang beliau tulis, ada satu buku yang
hingga saat ini terus dikaji isinya, dibuat ‘ngaji’ di berbagai masjid, pesantren
dan majlis-majlis ilmu yang tak lain adalah sebuah kitab berjudul “Al-Muqtathofat
li Ahlil Bidayat”.
Jika diartikan ke bahasa Indonesia, buku ini berjudul “Kutipan-Kutipan
Pilihan untuk Orang Awam (Pemula)”. Judul buku ini sangat tepat karena buku ini
ditulis oleh Kyai Marzuqi untuk membantah tudingan kelompok-kelompok di luar NU
yang (telah sampai) mengkafirkan tradisi-tradisi amaliyah NU seperti tahlilan,
yasinan, pembacaan Maulid Nabi Saw., dan lainnya. Dengan ilmiah, beliau menunjukkan
hadits-hadits dari kitab Shahihan (Bukhari dan Muslim) serta kitab-kitab para
ulama yang berlandaskan pada manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa amaliyah yang
dilakukan oleh warga Nahdliyin bukanlah amaliyah yang asal comot dan tidak
memiliki landasan.
Selain Kyai Marzuqi, KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy juga (beliau)
pernah menulis sebuah kitab berjudul “al-Muntakhobat fi Robithotil Qalbiyah wa
Shillatir Ruhiyyah”, Jika diterjemahkan maka artinya menjadi “Kalimat-Kalimat
Pilihan Terbaik di Dalam Menjelaskan Ikatan Hati dan Hubungan Ruhani Antara
Guru dan Murid”. Kitab ini diberi judul “Al-Muntakhobat” oleh beliau tidak lain
karena kitab ini memang berisi ‘keterangan-keterangan terbaik’ yang telah
disaring oleh Kyai Achmad Asrori dari kitab-kitab induk para ulama yang
menjelaskan khusus terkait hubungan ruhani antara guru dengan murid.
Mengapa beliau-beliau begitu mudah menemukan mutiara-mutiara
tersembunyi di balik kitab-kitab para ulama’? Sehingga karya tulis mereka
menjadi begitu menggugah hati dan pikiran para pembacanya? Boleh jadi hal ini
tidak lain adalah karena kebersihan hati beliau dari rasa dengki sehingga yang
muncul adalah kalimat-kalimat yang dapat menggugah para pembacanya. Kejernihan hati
ini memang penting sekali. Bahkan, di dalam mukadimah buku yang beliau semua
tulis, beliau semua secara tawaduk menyebut bahwa karya yang ditulisnya tidak
lain adalah dari mengutip ucapan guru-guru beliau dan para ulama’.
Misal saja Sidi Syaikh Imam al-Zarnuji dalam kitabnya “Ta’limul
Muta’allim”, beliau menyampaikan:
وأحببت أن أبين لهم طريق التعلّم على ما رأيت في الكتاب
وسمعت من أساتذتي أولى العلم والحكم..
Artinya: “Dan aku ingin menjelaskan kepada
mereka jalan mencari ilmu sebagaimana yang telah aku dapatkan dari kitab dan
aku dengar dari guru-guru yang mana mereka memiliki banyak ilmu dan hikmah..”
Selain beliau, Sidi Syaikh Muhammad Al-Mahmud, pengarang kitab “Hidayatul
Mustafid” juga menulis dalam mukaddimah kitab beliau:
فجمعت هذه الرسالة من كتب الائمّة المعوّل عليها في هذا
الشّان
Artinya: “Maka saya mengumpulkan risalah
(ilmu tajwid) ini dari kitab para ulama yang menjadi sandaran dalam hal ilmu
tajwid.”
Dari catatan singkat ini, kita berharap
semoga kita dapat meniru (entah sedikit atau banyak) dari cara beliau
menuliskan karya-karyanya. Menulis dengan kerendahan hati, tidak merasa jumawa
bahwa ilmu yang kita pahami adalah hasil dari perolehan diri sendiri. Sebaliknya,
dengan segala kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri kita, kita menyadari
bahwa setiap yang kita tulis, tidak lain adalah pengaruh dari kitab-kitab, dari
buku-buku, dari para muallif yang kita baca karyanya, dari para guru-guru kita
yang telah mendahului kita. Sebagaimana Sidi Syaikh Ibnu Malik mengatakan dalam
nadzamnya,
وهو بسبق حائز تفضيلا #
مستوجب ثنائي الجميلا
والله يقضي بهبات وافرة
# لي وله في درجات الآخرة
Walhamdulillahirabbil’alamin..
Komentar
Posting Komentar