Langsung ke konten utama

Tirakat dalam Menulis: Meneladani Ghiroh dan Keistiqomahan Berliterasi dari Gus Awis

Gus Awis, sapaan akrab dari KH. Afifuddin Dimyathi, Jombang. Beliau merupakan salah satu ulama muda Indonesia yang menjadi inspirasi bagi saya untuk (belajar) istiqomah menulis, mencatat, membaca, dan syukur² kelak bisa menulis karya ilmiah seperti beliau dalam bahasa Arab, atau paling tidak yang berhubungan dengan bahasa Arab.

Salah satu buku beliau, yang cukup menggugah rasa kagum saya adalah sebuah kitab berjudul "Jam'ul Abir fi Kutubit Tafsir". Sebuah kitab yang berisi tentang ulama² Tafsir dari Nusantara dan Asia Tenggara. Kitab ini, telah dicetak oleh penerbit Darun Nibros, Mesir dan menjadi salah satu referensi para mahasiswa di sana.

Tidak hanya bagi mahasiswa, Gus Awis juga berharap dengan adanya kitab ini, para ulama Timur Tengah dapat mengenal para ahli Tafsir dari Asia Tenggara seperti Syekh Abdur Rauf as Sinkili, Kiai Shalih Darat, Mbah Kiai Bisri Musthofa, Mbah Kiai Misbah Musthofa, Syekh Muhammad Said bin Umar al Malaysia, KH Ahmad Sanusi, Syekh Ahmad Shonhaji as-Singapuri, dan nama² lainnya.

Beliau masih muda, tapi karya² tulisnya dalam bahasa Arab sudah banyak. Salah satunya adalah kitab "Asy-Syamil fi Balaghatil Qur'an".

Suatu waktu saya pernah berkesempatan mengikuti seminar bedah buku yang dihadiri langsung oleh beliau di Home Theater Humaniora, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Di saat itu, beliau bercerita bahwa keberhasilan beliau dalam menulis kitab ini, tidak lain adalah sebab keberkahan al-Quran.

Ketika proses penulisan buku, beliau punya kebiasaan membaca al-Qur'an sehari lima Juz. Jadi seminggu khatam. Padahal waktu itu beliau sudah ngajar dan harus riwah riwih ke mana-mana. Jadi waktunya beliau padat sekali.

Tapi entah mengapa, dengan tetap membaca al-Qur'an lima juz sehari, waktu yang padat itu menjadi berkah luar biasa. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan kitab Tafsir al-Quran dari sisi balaghah ini yang berjumlah tiga jilid ini.

Mendengar hal itu, tentu yang ada di dalam hati saya hanyalah ketakjuban. Masyaallah, beliau masih muda, punya keistiqomahan dengan al-Quran. Sehari lima juz. Tidak heran jika beliau waktunya begitu dimudahkan, diberkahi semuanya. Urusannya dimudahkan oleh Al-Quran.

Apakah mungkin tulisan² kita tidak selesai² sebab jarang baca al-Quran? Hehe.. Ya begitulah, bacaan al-Qur'an kita tidak sebanyak beliau. Keistiqomahan kita dengan al-Quran masih belum seperti beliau.. Tapi harapan masih ada..

Terkait mengapa beliau begitu punya ghirah (semangat) yang tinggi dalam menulis, dalam berliterasi, beliau pernah menyampaikan: "Ini adalah kitab yang sudah lama saya rencanakan untuk saya susun. Ada salah satu prinsip dalam dunia literasi yakni *'tulislah apa yang ingin anda baca'*, dan kitab inilah hasil dari menulis apa yang ingin saya baca,

Ternyata beliau menulis, sebabnya adalah karena beliau ingin membaca apa yang beliau tulis. Sebuah tips yang menarik untuk ditiru. Yah, ada benarnya juga. Terkadang kita baru bisa memahami suatu ilmu setelah ilmu itu kita tulis. Kita ajarkan lewat tulisan. Kita buat ringkasannya yang semula dari buku menjadi sebuah catatan/tulisan di buku tulis kita.

Dari sini, pada akhirnya kita bisa belajar banyak dari Gus Awis. Semoga kita bisa meniru beliau. Bisa seperti beliau.

Saya menulis catatan singkat ini dengan niatan mengambil berkah dari beliau. Semoga Allah Ta'ala memudahkan hati kita ini untuk futuh lantaran para kekasih-Nya. Dan semoga kita bisa menyelesaikan karya tulis kita. Berkhidmah kepada umat lewat tulisan.

Walhamdulillahirabbil 'alamin.

Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/katib-pbnu-ini-terbitkan-kitab-jam-ul-abir-fi-kutubit-tafsir-SH9Oy

https://www.google.com/amp/s/www.jawapos.com/features/amp/015229120/gus-awis-dan-produktivitas-menulis-karya-karya-berbahasa-arab-kini-jadi-bacaan-wajib-mahasiswa-al-azhar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sekilas Al-Biqa'i: Ulama Tafsir Rujukan Prof. Quraish Shihab

Dalam bahasa Arab, nama beliau ditulis dengan البقاعي. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ibrahim bin Umar bin Hasan Al-Rubat bin 'Ali bin Abi Bakr Al-Biqa'i. Seorang ulama Syafi'iyyah yang sangat masyhur di abad ke-9. Lahir pada tahun 809-885 H. Nama Al-Biqa'i dinisbahkan pada nama sebuah daerah yang terkenal di Syam (sekarang Suriah). Jika dirunut, beliau memiliki sanad yang sambung hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) yang menganut fikih madzhab Hanbali. Ibnu Taimiyah sendiri, pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh Sulthonul Ulama' 'Izzuddin bin 'Abdissalam (557-660 H). Al-Biqa'i tidak sekadar dikenal sebagai Mufassir, tapi juga muarrikh (ahli sejarah) dan adib (sastrawan, penulis, pengarang). Di antara karyanya dalam bidang sejarah yakni:  مختصر في السيرة النبوية والثلاثة الخلفاء. Sedangkan dalam bidang sastra, literasi, dan gramatika yaitu: ما لا يستغني عنه الانسان من ملح اللبيان النكت الوفية بما في شرح الألفية Namun di antara seki...

Rindu Ibu dan Masa Kecil

Dari sudut ruangan kantor administrasi FISIP Brawijaya, saya duduk di dalam sebuah ruang baca yang lebarnya sekitar 7 x 3 meter. Ketika terik matahari kian panas, sayup-sayup suara kumandang adzan mulai terdengar meski terpotong-potong karena harus berebut ruang dengan suara para mahasiswa dari dalam gedung. Ya Rabb.. saya jadi rindu rumah. Rindu kampung halaman. Rindu masa kecil. Dan rindu Ibu. Saya rindu dengan masa kecil yang dapar bermain tanpa mengenal lelah. Rindu dengan fisik yang terus aktif giat bereksperimen ke sana ke mari. Rindu dengan jiwa yang selalu gembira. Semoga Ibu sehat" di rumah. Begitu pula kakak dan adik. Aamiiin.

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...