Langsung ke konten utama

Postingan

Menjadi Insan yang Bahagia

Untuk menjadi sukses kadang seseorang harus menguasai banyak hal. Tapi, untuk bahagia, seseorang tidak harus mengetahui semua hal. Cukuplah baginya satu atau beberapa hal saja, tapi mendalam. Menjadi ahli di situ. dan Allah boleh jadi akan menjadikan apa yang dikuasainya itu sebagai pintu rezeki. Wallahua'lam

Ojo Sampek Cubo Agomo (Pesan Ustadzuna Achmad Yulianto)

Sebelum memulai baca qasidah burdah, sembari menyalakan rokok, Ustadz Yuli berkata, "ojo sampek cubo agomo". saya pun bertanya kembali, maksud cubo agomo itu yang seperti apa. Beliau menjawab,  "cubo agomo iku ya males dadi wong apik, males dandani awak. iku jenenge cubo agomo". Mendengar itu saya tertegun dan beristighfar di dalam hati. saya sadar selama ini terkena cobaan yang paling berat yaitu cobaan agama. kalau cobaan kurangnya harta, kurangnya jiwa itu mungkin ada, tapi yang paling berbahaya adalah apabila diberi cobaan agama. semoga kita semua diselamatkan oleh Allah SWT dari cobaan ini. Amiiin. setelah itu beliau juga menerangkan tentang fadholnya akal itu ya ilmu, fadholnya jasad itu ya kesehatan, fadholnya ruhani itu ya mengenal Allah.  Wallahua'lam

Kenikmatan Dalam Mendaras Ilmu

Adakalanya kenikmatan dalam mencari ilmu tidak sepenuhnya didapatkan ketika duduk di majlis, melainkan tatkala mendaras kembali pelajaran yang telah didapatkan. Dengan mencatat apa yang telah disampaikian guru, baik berupa catatan ringkasan maupun dalam bentuk maqolah-maqolah penting. Dalam pembacaan ulang tersebut, terkadang tidak sedikit mata air hikmah yang mengalir lebih deras daripada sebelumnya. Jika ketika di majlis hanya mampu memahami keterangan awal dari guru, boleh jadi ketika mendaras, terbukalah pintu-pintu pemahaman yang lain sehingga keterangan selanjutnya dari guru dapat dipahami. Kadang, jika tidak paham hari ini, seminggu kemudian baru paham, atau sebulan kemudian baru paham. Jika tak kunjung terbuka pintu pemahaman tersebut maka kita yakini bahwa ia sedang menunggu di depan pintu sudah sejak lama. Jika pintu itu sudah dibuka oleh Sang Pemberi ilmu maka selama apapun kita menunggunya -sembari berikhtiar- kita akan dapat berjumpa dengannya. Semua hanya tentang waktu da...

Pesan Berharga Dari Syaikh Abdurrazaq Al-Badr (Resensi #1)

Adalah Syaikh ‘Abdurrazaq al-‘Abbad al-Badr, putra dari seorang ulama ahli hadits di Madinah, al-‘Allâmah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd al-Badr (semoga Allah senantiasa merahmati beliau berdua) yang telah menulis sebuah kitab berjudul “Min washoya al-salafi li al-syabab”, sebuah kutaiyib (buku saku kecil) yang berisikan nasehat-nasehat bagi para pemuda. Kutaiyib tersebut kemudian diterjemahkan oleh Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si dengan judul “15 Wasiat Salaf Kepada Para Pemuda”. Kutaiyib (buku saku kecil) ini adalah buku yang sangat mengesankan sekalipun tipis dan tidak banyak halamannya. Sekalipun sang muallif hanya menuliskan 15 wasiat, namun kesemuanya dikemas dengan penuh perhatian dan kesan yang mendalam sehingga pembaca akan tenggelam dalam bacaannya. Para pembaca -utamanya para pemuda- diajak untuk berdialog lalu merenungkan sejenak untuk apa saja usia muda mereka selama ini. Terlebih -kutaiyib- ini mengajak para pemuda untuk lebih merenungkan bagaimana kemanfaatan usia mudanya ke d...

5 Pelajaran Berharga di Balik Peristiwa Turunnya al-Qur’an

 Sebagai kitab suci sekaligus sumber paling otoritatif di dalam penggalian dalil-dalil hukum, tidak heran jika kemudian al-Qur’an terus dikaji dan diteliti oleh berbagai kalangan, baik kalangan internal umat muslim maupun kelompok luar (orientalis). Hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an selaras dengan sebutannya yang lain seperti al-Furqon, al-Huda, asy-Syifa, dan seterusnya yang menandakan akan kesempurnaannya sehingga layak dijadikan sebagai pegangan utama. Apabila kita renungkan, al-Qur’an tidak hanya mengandung nilai dan pesan-pesan luhur yang disampaikan melalui kandungan ayat-ayatnya, melainkan juga dapat dilihat dari sejarah turunnya al-Qur’an itu sendiri. Sebagaimana kita tahu, al-Qur’an diturunkan kepada Allah SWT. kepada Kanjeng Nabi SAW. dengan cara berangsur-angsur, bukan secara kontan. Mengenai hal ini, telah banyak keterangan yang menyatakan hikmah-hikmah di balik turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur. Salah satunya adalah agar kandungan nilai-nilai di dalamnya leb...

Metode Menulis Bainstorming

Yang menjadi ciri khas dari metode bainstorming adalah kita tidak diharuskan menulis secara ideal (sempurna). Tapi apa yang sudah terkonsepsi dalam pikiran kita, itu ditulis terlebih dahulu tanpa harus merujuk pada kitab, buku, artikel, maupun referensi lain yang sering kita gunakan untuk mendasarkan gagasan dan argumentasi agar lebih rajih (kuat) dan tsiqqah (terpercaya). Baru ketika kita sudah berusaha mengeksplor ide-ide dalam pikiran sejauh mungkin, kemudian mentok (writer’s block), itulah saat untuk membuka-buka kembali buku, kitab, dan artikel. Cara ini -selain untuk menjawab ketidaktahuan kita- juga bisa digunakan untuk mencari ta’bir dari ide yang sudah kita tulis. Ta’bir itu bisa berupa pendapat (maqolah) para tokoh, ulama’, dan cendekia (dalil aqli). Pun juga bisa berasal dari al-Qur’an dan Hadits (dalil naqli). Sumbernya pun tidak harus tertulis (teks) tapi bisa audio, visual, maupun gabungan ketiganya. Selebihnya, agar tulisan yang dihasilkan lebih mudah dipahami dan dimeng...

Catatan Menulis (2): Benda Mati itu Bernama “Ide”

Ide itu benda mati, bahasa-lah yang membuatnya hidup. Karenanya ide hanya akan menjadi sesuatu yang kosong dan sementara jika tidak dituang dalam wujud kata-kata. Ide hanya akan menjadi lintasan pemikiran yang datang bagai kilatan ilham, lalu pergi begitu saja jika kita tidak tahu cara mengikatnya. Ide hanya akan menjadi hiasan bagi pemiliknya saja, tanpa memberikan faedah bagi lingkungan di sekitarnya. Ide hanya akan menjadikan manusia sebagaimana manusia, yang dikaruniai akal dan jiwa, guna berpikir tentang alam semesta dan seluruh ciptaan-Nya. Beda bilamana ide kemudian dibahasakan dan dihadirkan, maka mereka (para makhluk Tuhan) dapat mengambil faedah dari ilham yang dikaruniakan kepadanya. Ia pun menjadi manusia seutuhnya yang menjalankan tugas kekhalifahannya di dunia. Yang fana hanya waktu, begitu kata Kakung Sapardji dalam sajaknya. Maka biarlah waktu saja yang fana, jangan ide-ide yang diilhamkan kepada kita. Wallahua’lam. Malang, 23.10.2020