Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2021

Kenikmatan Dalam Mendaras Ilmu

Adakalanya kenikmatan dalam mencari ilmu tidak sepenuhnya didapatkan ketika duduk di majlis, melainkan tatkala mendaras kembali pelajaran yang telah didapatkan. Dengan mencatat apa yang telah disampaikian guru, baik berupa catatan ringkasan maupun dalam bentuk maqolah-maqolah penting. Dalam pembacaan ulang tersebut, terkadang tidak sedikit mata air hikmah yang mengalir lebih deras daripada sebelumnya. Jika ketika di majlis hanya mampu memahami keterangan awal dari guru, boleh jadi ketika mendaras, terbukalah pintu-pintu pemahaman yang lain sehingga keterangan selanjutnya dari guru dapat dipahami. Kadang, jika tidak paham hari ini, seminggu kemudian baru paham, atau sebulan kemudian baru paham. Jika tak kunjung terbuka pintu pemahaman tersebut maka kita yakini bahwa ia sedang menunggu di depan pintu sudah sejak lama. Jika pintu itu sudah dibuka oleh Sang Pemberi ilmu maka selama apapun kita menunggunya -sembari berikhtiar- kita akan dapat berjumpa dengannya. Semua hanya tentang waktu da...

Pesan Berharga Dari Syaikh Abdurrazaq Al-Badr (Resensi #1)

Adalah Syaikh ‘Abdurrazaq al-‘Abbad al-Badr, putra dari seorang ulama ahli hadits di Madinah, al-‘Allâmah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd al-Badr (semoga Allah senantiasa merahmati beliau berdua) yang telah menulis sebuah kitab berjudul “Min washoya al-salafi li al-syabab”, sebuah kutaiyib (buku saku kecil) yang berisikan nasehat-nasehat bagi para pemuda. Kutaiyib tersebut kemudian diterjemahkan oleh Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si dengan judul “15 Wasiat Salaf Kepada Para Pemuda”. Kutaiyib (buku saku kecil) ini adalah buku yang sangat mengesankan sekalipun tipis dan tidak banyak halamannya. Sekalipun sang muallif hanya menuliskan 15 wasiat, namun kesemuanya dikemas dengan penuh perhatian dan kesan yang mendalam sehingga pembaca akan tenggelam dalam bacaannya. Para pembaca -utamanya para pemuda- diajak untuk berdialog lalu merenungkan sejenak untuk apa saja usia muda mereka selama ini. Terlebih -kutaiyib- ini mengajak para pemuda untuk lebih merenungkan bagaimana kemanfaatan usia mudanya ke d...

5 Pelajaran Berharga di Balik Peristiwa Turunnya al-Qur’an

 Sebagai kitab suci sekaligus sumber paling otoritatif di dalam penggalian dalil-dalil hukum, tidak heran jika kemudian al-Qur’an terus dikaji dan diteliti oleh berbagai kalangan, baik kalangan internal umat muslim maupun kelompok luar (orientalis). Hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an selaras dengan sebutannya yang lain seperti al-Furqon, al-Huda, asy-Syifa, dan seterusnya yang menandakan akan kesempurnaannya sehingga layak dijadikan sebagai pegangan utama. Apabila kita renungkan, al-Qur’an tidak hanya mengandung nilai dan pesan-pesan luhur yang disampaikan melalui kandungan ayat-ayatnya, melainkan juga dapat dilihat dari sejarah turunnya al-Qur’an itu sendiri. Sebagaimana kita tahu, al-Qur’an diturunkan kepada Allah SWT. kepada Kanjeng Nabi SAW. dengan cara berangsur-angsur, bukan secara kontan. Mengenai hal ini, telah banyak keterangan yang menyatakan hikmah-hikmah di balik turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur. Salah satunya adalah agar kandungan nilai-nilai di dalamnya leb...

Metode Menulis Bainstorming

Yang menjadi ciri khas dari metode bainstorming adalah kita tidak diharuskan menulis secara ideal (sempurna). Tapi apa yang sudah terkonsepsi dalam pikiran kita, itu ditulis terlebih dahulu tanpa harus merujuk pada kitab, buku, artikel, maupun referensi lain yang sering kita gunakan untuk mendasarkan gagasan dan argumentasi agar lebih rajih (kuat) dan tsiqqah (terpercaya). Baru ketika kita sudah berusaha mengeksplor ide-ide dalam pikiran sejauh mungkin, kemudian mentok (writer’s block), itulah saat untuk membuka-buka kembali buku, kitab, dan artikel. Cara ini -selain untuk menjawab ketidaktahuan kita- juga bisa digunakan untuk mencari ta’bir dari ide yang sudah kita tulis. Ta’bir itu bisa berupa pendapat (maqolah) para tokoh, ulama’, dan cendekia (dalil aqli). Pun juga bisa berasal dari al-Qur’an dan Hadits (dalil naqli). Sumbernya pun tidak harus tertulis (teks) tapi bisa audio, visual, maupun gabungan ketiganya. Selebihnya, agar tulisan yang dihasilkan lebih mudah dipahami dan dimeng...

Catatan Menulis (2): Benda Mati itu Bernama “Ide”

Ide itu benda mati, bahasa-lah yang membuatnya hidup. Karenanya ide hanya akan menjadi sesuatu yang kosong dan sementara jika tidak dituang dalam wujud kata-kata. Ide hanya akan menjadi lintasan pemikiran yang datang bagai kilatan ilham, lalu pergi begitu saja jika kita tidak tahu cara mengikatnya. Ide hanya akan menjadi hiasan bagi pemiliknya saja, tanpa memberikan faedah bagi lingkungan di sekitarnya. Ide hanya akan menjadikan manusia sebagaimana manusia, yang dikaruniai akal dan jiwa, guna berpikir tentang alam semesta dan seluruh ciptaan-Nya. Beda bilamana ide kemudian dibahasakan dan dihadirkan, maka mereka (para makhluk Tuhan) dapat mengambil faedah dari ilham yang dikaruniakan kepadanya. Ia pun menjadi manusia seutuhnya yang menjalankan tugas kekhalifahannya di dunia. Yang fana hanya waktu, begitu kata Kakung Sapardji dalam sajaknya. Maka biarlah waktu saja yang fana, jangan ide-ide yang diilhamkan kepada kita. Wallahua’lam. Malang, 23.10.2020

Membaca Kembali Riset “How Islamic Are Islamic Countries”

Judul di atas adalah sebuah judul riset yang sangat ramai diperbincangkan di bangku-bangku kampus. Sesiapa saja yang membahasnya, membedahnya, akan serasa mendapat ilham baru. Hehe. Termasuk saya yang saat itu masih awam dengan dunia riset (apalagi sampai sekarang masih sangat awam sekali). Waktu itu, entah semester berapa, riset tersebut cukup menggemparkan dunia akademik, pasalnya hasil riset itu membuktikan bahwa ternyata tidak selalu negara Islam itu adalah negara yang islami. Dalam arti tidak semua negara Islam mampu menerapkan nilai-nilai Islam secara utuh. Justru negara yang paling Islami dalam riset tersebut adalah Irlandia, Finlandia, Selandia Baru, dan beberapa negara lain yang notabenenya tidak mendeklarasikan diri sebagai negara Islam dan berpenduduk mayoritas muslim. Riset yang ditulis oleh dua guru besar di Universitas George Washington, AS yaitu Hossein Askari dan Rehman tersebut bisa Anda cari di google. Insyallah Anda akan mendapat full text-nya. Tapi jika Anda memilik...

Catatan Menulis (1): Batu Loncatan itu Bernama “Niru”

Membiasakan diri bergelut dengan bahasa penulis adalah batu loncatan yang dapat menggerakkan kreatifitas dan imajinasi seseorang menjadi lebih terarah. Karenanya terus mengulang-ulang membaca karya si pengarang hingga menguasainya betul adalah ikhtiar (upaya) yang tidak cukup dilakukan sekali dua kali, tapi sampai tidak ada lagi istilah yang tidak dipahami oleh si pembelajar. Wallahua’lam 22.10.2020

Mutiara Di Balik Amtsilah al-Tahsrifiyyah

Di tengah-tengah kesibukan menerjemah skripsi beberapa minggu ini, saya (baru) merasakan betul lelahnya menerjemahkan teks-teks Indonesia ke dalam bahasa Arab. Kesulitan itu bukan tanpa alasan, meskipun saya sekian purnama berstatus sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab, tetap saja status itu tidak menjamin saya bisa menyulap skripsi bahasa Indonesia saya menjadi bahasa Arab dalam waktu sekejap mata (betapa kerennya. wkwk). Ternyata semua tetap butuh yang namanya ikhtiyar dhahir (baca: usaha) tidak hanya ikhtiyar batin. Kecuali kalau saya tiba-tiba diberi karomah oleh Allah, namun sepertinya wajah-wajah seperti saya ini kok ya tidak mungkin. Saya cuman bisa ngarep-ngarep barokah dari para Kiai saja. Meski begitu, status sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab itu bukan berarti tidak berguna. Dia telah menjelma menjadi semacam tekanan batin buat saya. Kadang saya mikir “Lah iya, masak jurusannya Bahasa Arab tapi terus menghindar dan tidak mau dekat-dekat dengan bahas...

Saat Lupa dan Saat Sadar

Hidup di dunia ini, barangkali hanya ada dua fase. Fase lupa dan fase sadar. Pada fase lupa ini -seperti yang sering penulis rasakan- menjadikan seseorang berada dalam kebingungan, kekalutan, ketidaktahuan apa yang selayaknya dikerjakan. Kalaupun ada yang hendak dikerjakan tapi hati serasa tidak menikmati. Setiap gerak gerik yang kita lakukan seperti hambar, tawar, tiada rasa dan membekas dalam hati. Hendak salat tapi hanya menyisakan lelah fisik. Hendak membaca al-Qur’an tapi mulut terasa keluh, berat, semacam tak pantas membacanya. Kalaupun membaca yang terbaca hanya lafadz-lafadznya. Hendak diam, melihat aliran air, merenungi alam ciptaan, tapi belum kunjung mendapat ilham pelajaran. Membuka kitab-kitab, mencoba meniru para orang 'Alim, memaksa diri muthola’ah tapi hanya berhasil membaca judul bab dalam daftar pustakanya saja, tidak sampai memahami makna isi kitabnya. Hidup dalam fase lupa, tidak ubahnya benar-benar berada dalam kegelapan. Yang gelap bukan dunia yang ada di hada...

الخير والشر من الله

 الخير والشر من الله “Adapun kebaikan maupun keburukan itu datangnya dari Allah.” Seru KH. Badruddin, salah satu Pengasuh Mabna di Ma’had Sunan Ampel al-Ali. Ketika itu Ustadz Anas mengajak saya untuk menemani beliau bertemu KH. Badruddin di kantor Dekan Fakultas Syariah. Beliau, Ustadz Anas bercerita banyak hal kepada KH. Badruddin. Lantas terjadilam suatu dialog yang penuh pelajaran. Salah satunya adalah maqolah di atas yang beliau tuturkan untuk meringankan beban dalam menapaki lika-liku kehidupan. Beliau menjelaskan bahwa maksud dari keburukan itu adalah sesuatu yang tidak kita senangi (sehingga sesuatu itu kita anggap buruk). Bukan berarti Allah turunkan keburukan itu guna mendzalimi kita. Karena apa yang menurut manusia buruk, boleh jadi baik untuk dirinya. Sedangkan apa yang menurut manusia itu baik, boleh jadi buruk baginya. Jadi dalam konteks ini baik buruknya sesuatu itu tergantung pada persepsi manusia itu sendiri. Selain itu manusia tetap perlu berhusnudzan kepada apa y...

Di manakah Allah Berada?

Tanya adikku suatu hari. Pertanyaan adikku itu pada awalnya membuatku seolah dapat menjawabnya. Aku telah mengumpulkan sekian dalil-dalil yang menceritakan di mana Allah berada. Namun tiba-tiba aku merenung dan mengurungkan niat untuk menjawabnya. Ternyata benar pertanyaan itu, menjawabnya tidak semudah mempertanyakannya. Jika aku menyebut Allah berada di arsy, barangkali adikku akan mengira bahwa Allah bertempat dan tempatnya sangatlah jauh. Ia akan kesulitan untuk bertemu dengan-Nya. Lagi-lagi itu akan semakin membuatku kesulitan. Aku jadi ingat perkataan guruku bahwa tidak mungkin bagi kita melihat dzat Allah. Di dunia ini, kita hanya dapat mengenali sifat Allah, fi’lullah, dan asma Allah, bukan dzat-Nya. Beberapa hari kemudian aku membuka beberapa lembaran buku, berharap akan ada sesuatu yang bisa aku makan hari ini. Tubuhku telah melemas selama berhari-hari, bagai jasad tanpa ruh. Jiwaku berantakan dan tak karuan. Aku menaruh harapan pada sebuah buku, sebab hanya ia temanku saat i...

Benih-benih Yang Ditumbuhkan Allah

Ia adalah sesuatu yang sulit didefinisikan bukan karena ia terlalu rumit, terlalu abstrak, atau terlalu jauh sehingga nalar manusia tidak dapat menjangkaunya. Melainkan karena kita, manusia yang tidak ingin ia terdefinisikan sebab jika ia telah terdefinisikan maka pencarian telah selesai. Kalaupun ada definisi mengenainya maka itu bukanlah hakikat dirinya melainkan secuil bagian dari seluruh keindahan yang dimilikinya. Siapakah ia? Yah, ia adalah cinta. Ibarat benih, bukanlah manusia yang mampu menumbuhkannya melainkan Allah yang menumbuhkan cinta itu ke dalam diri seseorang. Allah memberikan cintanya kepada manusia, sehingga manusia dapat mencintai-Nya. Allah memberikan kasih sayang kepada hamba-Nya sehingga tergeraklah hati si hamba untuk mengenali Tuannya. “Kalau bukan karena Allah, niscaya kita tidak akan mengenal pendidik jiwa/ruh kita” “Kalau bukan karena sang pendidik ruh kita (murabbi ruuhina), niscaya kita tidak akan dapat mengenali-Nya.” Menukil salah satu perkataan dari guru...

Saat Terbaik

Saat terbaik adalah tatkala hati tiba-tiba didatangi oleh kegelisahan, lantas kaki dilangkahkan untuk mendekat kepada seseorang yang Allah karunia ilmu beserta cahayanya, yang dikaruniai Allah ketenangan hati dan ruhani yang menyala sinarnya, sehingga tentramlah hati sebab melihat wajah dan mendengar teduh tutur katanya. Ketenangan hati itu diberikan, sedangkan manusia hanya bisa mencarinya, tidak sampai mampu menghadirkan ketenangan hati itu dengan sendirinya. Allah, irhamni. Lamongan, 04 Juni 2020

Memahami Makna Tadabbur dalam al-Quran

Salah satu amaliyah pokok terhadap al-Quran adalah tadabbur. Tadabbur itu arti aslinya ‘jalur belakang’, lalu bermakna ‘memikirkan sesuatu (yang) dampaknya ada di belakang’ misalnya dalam ayat “fal mudabbiraati amra”. Sedangkan di sisi lain, tadabbur al-Quran bermakna merenungkan teks-teks al-Quran untuk dipetik makna di baliknya. Dengan kata lain teks al-Quran itu ‘tetap’ dari masa ke masa, akan tetapi ‘makna konteksnya’ bersifat dinamis, berubah dari masa ke masa, dari ruang ke ruang. Al-Quran sendiri menyebut tadabbur dalam tiga kali kesempatan. *Yang pertama* “afalaa yatadabbaruunal qur’an am ‘ala quluubin aqfaaluha”, bahwasanya orang yang tidak mau melakukan tadabbur, itu diancam; dikhawatirkan termasuk kategori orang-orang yang hatinya tertutup karena dia hanya fokus untuk membaca sehingga tidak bisa meresapi maknanya. Targetnya hanya sekedar khatam, tidak memiliki target-target lain. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang signifikan sekalipun sudah khatam berkali-kali. Lalu ya...

Pengingat Diri

Selama manusia membandingkan kenikmatan duniawi yang diberikan oleh Allah antara dirinya dengan orang lain, maka ia tak akan puas. Sebab kenikmatan duniawi itu jika dibanding-bandingkan dan terlalu dikejar, maka tak akan ada habisnya. Ia akan melihat orang lain selalu lebih dari dirinya, sedangkan dirinya selalu serba kurang daripada orang lain. Namun bukan berarti ia harus meninggalkan dunia sama sekali. Lain halnya apabila kenikmatan berupa ‘ketenangan ruhani’, ‘keterkendalian terhadap nafsu’, ‘kedekatan dengan Allah’ yang dicemburukannya, maka ketahuilah, cemburu seperti itu lebih dapat membuat hati kita menangis berhari-hari, bermalam-malam, dan sekalipun fisik kita dibuat sakit olehnya akibat tak ada nafsu untuk makan, kita tetap tidak ingin tangisan dan rasa sakit itu berhenti, seolah tiada yang lebih nikmat selain berharap mendapatkan ‘cinta’ dari Sang Pencipta dunia. Ar-Rahim, al-Ghafur, al-Malik, sekalipun harus dicapai dengan tubuh yang meringkih dari waktu ke waktu. Wallahua...

Ilmu

Ilmu memang dapat menjadikan seseorang terbuka wawasannya, luas cakrawalanya tatkala mendapatkannya. Tapi, ilmu saja belum tentu bisa membuat seseorang itu 'ajeg' (istiqomah). Yang dapat membuat seseorang 'ajeg' itu hanyalah hati yang bersih, yang mendapat limpahan hidayah Allah, cahaya Allah. Dan itu semua tidak lain sebab pertolongan (taufiq) Allah. Karenanya ilmu saja tidak cukup tanpa tazkiyah an-nafs, tanpa mujahadah an-nafs. Wallahua'lam 

Tiga Model Pendidikan dalam Meningkatkan Kualitas Nalar Peserta Didik

ADA TIGA model pendidikan yang sering kita temui di sekitar kita, yaitu 1) pendidikan formal, 2) pendidikan non-formal, dan 3) pendidikan informal. Pendidikan formal adalah sistem pendidikan yang diadakan oleh suatu lembaga di bawah institusi pemerintahan, memiliki proses pembelajaran yang terjadwal, terukur dan sistematis, dan dilaksanakan secara berjenjang (kelas satu, dua, tiga, dst). Contoh daripada pendidikan formal adalah PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Sedangkan pendidikan non-formal adalah sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga di luar pemerintahan, dan tidak terikat dengan kurikulum resmi dari lembaga pendidikan pemerintah. Contoh daripada pendidikan non-formal adalah Pesantren, TPQ, Majlis Ta'lim, Halaqoh, dan lain sebagainya. Adapun pendidikan informal adalah sistem belajar yang diadakan tanpa terikat oleh ruang dan waktu. Siapa saja dapat menjadi peserta didik dan pendidik. Contoh daripada pendidikan informal adalah keluarga, dan belajar secar...

Ya Rasul..

Dunia ini diciptakan karena Rasulullah SAW Dunia ini diciptakan dari Nur Muhammad Sehingga teranglah yang semula gelap Hijaulah taman yang semula tandus Segarlah tanah yang semula kerontang dan bergembiralah semua makhluk yang sebelumnya penuh kalut Maka, bagaimana keadaan hati seorang penuntut ilmu, bila tidak bersemayam di dalamnya nama Muhammad bila tiada pernah berselawat pada Sang Kekasih Yang ia menjadi alasan diciptakannya dunia ini yang ia, menjadi sinar penjuru alam Kaz zahri fi tarafin, wal badri fi syarafin, wal bahri fi karamin, wad dahri fi himami Fa innahu syamsun hum kawakibuha yudhhirna anwaraha lin naasi fidh dhulami

Faidah Khatam al-Qur'an di Rumah

KHATAMAN MINGGU lalu, Ustadz Kaji memberikan sedikit mauidzoh yang sangat bernilai. Beliau berkata, "Kalau kita khataman al-Qur'an, dan tinggal beberapa surat yang belum dibaca (misal surat ad-Dhuha sampai an-Nass) usahakan dibaca di rumah supaya rumah itu menjadi berkah, didoakan malaikat. Syaikh Nawawi al-Bantani berkata ada 60 ribu malaikat yang mendoakan. Sedangkan Imam an-Nawawi berkata ada 44 ribu malaikat. Semoga anak kita, istri kita dijadikan ahlul qur'an." beliau juga bercerita, dulu pernah Romo Yai duko ke saya (Ustadz Kaji), "awakmu nek meneng iku moco sholawat, subhanallah, ta istighfar. ojok meneng ae. Nek aku meneng berarti aku ngaji." beliau pun lantas tertawa beliau juga bercerita dulu Romo Yai pernah bilang, "enak tenan awakmu rokok an tok melbu suargo" haha.  Romo Yai, punya istiqomah yaitu mengajar ngaji masyarakat dengan al-Qur'an langsung di masjid sebelah fly over Arjosari. rata-rata yang ikut ngaji adalah orang-orang sep...

Ganti Oli

BEBERAPA HARI yang lalu, saya berkesempatan untuk mengajak si merah, motor kesayangan ke salon. Saya sengaja tidak mencari salon yang ber-title karena menyesuaikan dengan isi kantong. hehe. Ketika sampai, saya bilang ke bapaknya untuk minta tolong diganti lampu depan dan ganti oli setelah sekian purnama terbiarkan begitu saja tanpa perawatan. Yang menarik, tatkala si bapak memungut sisa oli bekas, lalu menuangkan oli baru ke dalam mesin, saya nyeletuk bertanya, "Kok saget warnane ireng Pak nggeh? padahal asline kuning apik" otomatis si Bapak hanya senyum-senyum lalu berkata, "Lah samean mari mangan, kok iso metune warna kuning mas?" saya pun langsung tertawa mendengar jawaban si Bapak yang sangat singkat, padat, dan jelas itu. Atau dalam istilah fiqihnya "jami' mani'". "itu terjadi karena ada proses pembakaran mas. mangkanya jadi warna hitam." setelah mendengar penjelasan si Bapak itu, saya merasa mendapat ilmu baru. Tentang oli yang warn...

Pesan Mujalasah dengan Abah

 Abah, adalah sebutan saya untuk guru kami KH. Abdul Kholiq Alwi. Beliau merupakan murid sekaligus khadam Romo KH. Abdul Mannan Syukur Singosari. Beliau mondok sejak keluar dari Sekolah Dasar. Cerita beliau suatu hari, "Aku biyen iku digolekno pondok ambek bapakku. pondok seng apik pokok e. akhire ketemu Pondok PIQ (karena waktu itu memang gedungnya paling bagus). Tapi aku gak gelem. 'wes, emoh Pak. pokok e aku kudu mondok seng pondok e gubug-gubug'. Akhirnya ketemulah dengan pondok Romo Yai Mannan yang waktu itu memang masih sangat sederhana, hanya dari bambu." Melihat hal itu, Ayah Ustadz Kaji (sebutan Ustadz Kholiq di pesantren) menangis. Begitu pula sepulangnya beliau ke rumah, Ibu beliau turut menangis. Beliau berdua berkata "Ya Allah nak, mbesok awakmu dadi opo nek mondok nang gubug ngunu iku?" Tapi dengan kemantaban dan keyakinan yang kuat, Abdul Kholiq muda tetap bertekad untuk mondok di tempat itu sembari pula mencoba meyakinkan kedua orang tuanya a...